Untuk memastikan penyebab kematian secara medis dan hukum, jenazah korban saat ini masih disemayamkan di Rumah Sakit Bayu Asih Purwakarta. Proses otopi atau visum et repertum sedang dilakukan secara menyeluruh oleh tim forensik untuk mengungkap ada tidaknya penyiksaan tambahan sebelum korban menghembuskan napas terakhir.
 
"Untuk detail luka, kami masih menunggu hasil visum di Rumah Sakit Bayu Asih. Kebetulan hingga saat ini hasil resminya belum kami terima, sementara jenazah masih dalam tahap pemeriksaan intensif di rumah sakit," tandas AKP I Made Purwantara.
 
Hasil visum ini akan menjadi kunci utama dalam menentukan pasal yang akan dijeratkan kepada para pelaku, apakah sekadar pengrusakan yang berujung maut, atau memang ada unsur kesengajaan dalam pembunuhan tersebut.
 

Jejak Digital yang Memilukan: Status WhatsApp Terakhir Sang Satpam

Di tengah duka yang menyelimuti, sebuah unggahan video yang diduga merupakan status WhatsApp terakhir sang satpam beredar luas di media sosial. Video tersebut menjadi saksi bisu dedikasi korban dalam menjalankan tugasnya.
 
Dalam rekaman singkat itu, korban terlihat mendokumentasikan aksi vandalisme berupa berbagai coretan merusak di sekitar fasilitas publik yang seharusnya dijaganya. Status tersebut seolah menjadi "laporan terakhir" dari seorang satpam yang sadar akan kerusakan yang terjadi di lingkungannya, namun tidak sempat menyelesaikannya karena nyawanya lebih dulu direnggut.
 
Unggahan ini pertama kali viral setelah dibagikan oleh akun Instagram @sunda.banyol pada 25 Juli 2026, dengan keterangan yang menggugah: "Status terakhir WhatsApp satpam sebelum ditemukan tewas."
 
Jejak digital ini secara tidak langsung memberikan petunjuk berharga bagi kepolisian. Video tersebut mengindikasikan bahwa korban kemungkinan besar berinteraksi atau berpapasan dengan para pelaku vandalisme tak lama sebelum ia ditemukan tewas. Ini memperkuat hipotesis bahwa kematian sang satpam berkaitan langsung dengan upayanya mengamankan aset negara dari tangan-tangan yang tidak bertanggung jawab.