Lebih Peduli Pola Makan, Tapi Obesitas Masih Mengintai

Alkhoudr mengatakan banyak pasien muda kini lebih sadar gizi, lebih sering mengonsumsi makanan berbasis nabati, dan mengikuti informasi nutrisi melalui media sosial.

Angka obesitas pada kelompok usia 18-24 tahun lebih rendah dibanding kelompok usia lebih tua.

Data 2023 menunjukkan hampir 20% orang berusia 18-24 tahun mengalami obesitas, sedangkan pada kelompok usia 45-54 tahun angkanya mendekati 40%.

>>> Consistent AAGO ProMag 10000mAh Power Bank dengan Pengisian Nirkabel 15W dan Kickstand Diluncurkan

Meski demikian, sekitar satu dari lima anak muda tetap mengalami obesitas. Konsumsi makanan ultra-proses masih menjadi masalah di semua kelompok usia.

Kurang Tidur dan Kebanyakan Kafein

Tidur menjadi salah satu aspek kesehatan yang paling sering diabaikan Gen Z.

Para ahli merekomendasikan orang dewasa tidur minimal tujuh jam per malam, sedangkan remaja membutuhkan delapan hingga 10 jam.

Namun, Alkhoudr mengatakan banyak pasien mudanya hanya tidur sekitar empat hingga lima jam setiap malam. Kondisi ini diperparah dengan tingginya konsumsi minuman berenergi dan suplemen berkafein.

Para ahli menyarankan konsumsi kafein tidak melebihi 300-400 miligram per hari, tetapi banyak anak muda mengkonsumsinya jauh di atas batas tersebut tanpa disadari.

Lebih Terbuka Soal Kesehatan Mental

Gen Z tumbuh pada masa ketika masalah kesehatan mental meningkat tajam.

Survei menunjukkan hampir dua pertiga anggota Gen Z pernah mengalami gangguan kesehatan mental, lebih tinggi dibanding generasi lainnya.

Data CDC AS pada 2023 menunjukkan 40% siswa SMA di AS mengalami perasaan sedih atau putus asa yang berlangsung terus-menerus.

Alkhoudr menilai pandemi COVID-19 menjadi salah satu faktor peningkatan kasus depresi dan kecemasan pada remaja dan dewasa muda.