Melalui sesi menulis artikel ilmiah populer yang dipandu editor The Conversation Indonesia, Robby Irfany Maqoma dan Nurul Fitri Ramadhani, peserta diajak melihat kembali siapa pembaca penelitian mereka.

>>> Kemlu RI Buka Suara soal Pertemuan Prabowo dengan Direktur FBI

Mereka belajar mengubah hasil riset menjadi artikel ilmiah populer yang tetap akurat, tetapi lebih mudah dipahami masyarakat luas.

Fokusnya bukan sekadar menyederhanakan bahasa, melainkan membangun narasi yang menunjukkan mengapa sebuah penelitian penting bagi kehidupan sehari-hari.

"Dari perspektif jurnalistik, saya belajar bahwa transparansi tidak hanya soal ketersediaan data, tetapi juga bagaimana data tersebut disajikan secara sederhana, relevan, dan dapat diakses oleh masyarakat," ungkap Alam Mahadika, peneliti Pusat Studi Muhammadiyah.

Diskusi dengan Jurnalis Investigasi

Peserta juga berdiskusi langsung dengan lima jurnalis penerima hibah Pulitzer Center: Ayomi Amindoni, Nopri Ismi, Furqon Ulya, Abdus Somad, dan Adi Renaldi.

Diskusi membahas proses peliputan, teknik memverifikasi data, tantangan bekerja dengan sumber sensitif, hingga bagaimana temuan ilmiah dimanfaatkan untuk memperkuat kualitas investigasi.

Melalui ruang ini, peserta melihat akademisi dan jurnalis investigasi sebenarnya memiliki tujuan yang sama: menghadirkan informasi kredibel untuk kepentingan publik.

Akademisi menghasilkan bukti melalui penelitian sistematis, sementara jurnalis menghubungkan bukti tersebut dengan realitas di lapangan agar lebih mudah dipahami masyarakat.

Kolaborasi keduanya memungkinkan sebuah isu dipahami secara lebih utuh, tidak hanya berdasarkan data, tetapi juga melalui pengalaman orang-orang yang terdampak.

"Pelatihan ini tidak sekadar melatih kemampuan penulisan, tapi melihat sisi kemanusiaan yang dapat diupayakan dan diadvokasikan lewat tulisan," ujar Mardian Putra Frans, dosen Fakultas Hukum Universitas Kristen Satya Wacana.

Tidak semua penelitian akan langsung mengubah kebijakan atau menyelesaikan persoalan publik.

Namun, riset akan lebih berpeluang memberi dampak ketika dipertemukan dengan jurnalisme investigasi yang mampu menerjemahkan bukti ilmiah menjadi cerita yang mendalam, relevan, dan mudah diakses masyarakat.

>>> Pelatih Korea Soroti Evaluasi Usai Kalahkan Timnas Voli Putri Indonesia

Melalui kolaborasi seperti inilah, pengetahuan tidak berhenti di ruang akademis, tetapi menjadi bagian dari percakapan publik yang dapat mendorong perubahan.