Banyak persoalan publik yang mendesak, seperti pertambangan timah, hilangnya habitat penyu, ekspansi tambak udang, penurunan muka tanah di pesisir utara Jawa, dan perdagangan karbon yang berdampak pada masyarakat adat, telah menjadi objek penelitian.

Namun, tidak sedikit hasil riset tersebut hanya berhenti sebagai publikasi ilmiah yang dibaca kalangan akademisi.

>>> Kepala BGN: Desakan Hentikan MBG Bukan Ranah Kami

Di sisi lain, jurnalisme investigasi bekerja dengan cara berbeda.

Jurnalis tidak hanya mengungkap persoalan, tetapi juga menelusuri dampaknya terhadap masyarakat, memverifikasi temuan di lapangan, dan menyajikannya dalam cerita yang dapat dipahami publik.

Ketika riset dan jurnalisme investigasi berjalan sendiri-sendiri, keduanya memiliki keterbatasan.

Riset menawarkan kedalaman analisis dan bukti ilmiah, sementara jurnalisme menghadirkan konteks, suara masyarakat, dan daya jangkau yang lebih luas.

Namun, ketika keduanya dipertemukan, temuan ilmiah tidak hanya memperkuat kualitas liputan investigasi, tetapi juga berpeluang mendorong diskusi publik dan menjadi rujukan dalam pengambilan kebijakan.

Pelatihan yang Mempertemukan Akademisi dan Jurnalis

The Conversation Indonesia bersama Pulitzer Center menyelenggarakan Pelatihan Menulis Artikel Ilmiah Populer SEA Journalist-Academia Dialogue.

Forum ini mempertemukan 25 akademisi dan peneliti dari berbagai daerah di Indonesia dengan para jurnalis investigasi.

Ruang ini dirancang sebagai tempat belajar bersama dan membangun kolaborasi antara peneliti yang menghasilkan pengetahuan berbasis bukti dan jurnalis yang menerjemahkannya menjadi informasi relevan bagi masyarakat.

Agustin Rozalena, dosen Universitas Bina Darma, mengaku pengalaman ini mengubah cara pandangnya terhadap publikasi ilmiah.

Ia menyadari hasil penelitian tidak harus berhenti sebagai artikel akademis, tetapi bisa menjadi bagian dari percakapan publik yang mendorong perubahan.

"Yang paling membahagiakan bagi saya adalah menyadari bahwa tulisan berbasis riset memiliki potensi untuk memengaruhi kebijakan," kata Agustin.