Direktur Institut Pertahanan, Lingkungan, Ekonomi, dan Kebijakan Universitas Exeter, Ian Bateman, menjabarkan bahwa pajak karbon dan pelabelan karbon dapat diaplikasikan secara beriringan untuk menekan emisi tanpa membebani konsumen secara berlebihan.

“Temuan ini menyiratkan bahwa pajak karbon dan pelabelan karbon dapat digabungkan untuk mengurangi emisi gas rumah kaca sambil menjaga biaya bagi konsumen seminimal mungkin dan menghasilkan peningkatan kesejahteraan masyarakat secara menyeluruh,” ujarnya.

Peneliti Universitas Trento, Dr. Marco Tomasi, menilai tantangan utama saat penerapan pajak karbon adalah rendahnya penerimaan publik serta potensi membebani rumah tangga berpendapatan rendah.

“Pengenalan pajak karbon bukannya tanpa tantangan, karena langkah-langkah ini umumnya memiliki penerimaan publik yang terbatas dan cenderung membebani rumah tangga yang kurang mampu.

Studi kami menunjukkan bahwa redistribusi pendapatan pajak berdasarkan per kapita akan secara efektif menghilangkan ketidaksetaraan yang terkait dengan penerapan pajak, sehingga meningkatkan keadilan kebijakan tersebut,” ujarnya.

Studi ini juga menguak temuan baru bahwa dampak penerapan kebijakan itu bisa berbeda-beda bergantung pada pola konsumsi.

>>> Cara Daftar Perlinsos Kemensos 2026 Online via HP, Lengkap Syaratnya

Rumah tangga dengan konsumsi daging yang tinggi cenderung lebih responsif terhadap label karbon.