Menurutnya, kelengkapan data akan mendukung percepatan distribusi obat-obatan kepada masyarakat yang membutuhkan.

>>> 4 Cushion Tahan Lama Diskon hingga 50% di Shopee, Harga di Bawah Rp100 Ribu

Ia menyamakan upaya ini dengan sebuah pertempuran yang membutuhkan kekuatan data.

"Kita berperang, tanpa data yang lengkap ya tidak mungkin bisa mengalahkan musuh yang akan kita hadapi. Kekuatan kita apa?

Kekuatan kita jelas yang ada di sini adalah kekuatan kita dari segi SDM," tambah dia.

Wiyagus menegaskan Kemendagri mendukung penuh penanganan tuberkulosis di daerah.

Karena berkaitan langsung dengan pelayanan dasar, pemerintah daerah tidak perlu ragu menjalankan berbagai kebijakan penanganan penyakit tersebut.

Ia menyebut seluruh program pemerintah yang dijalankan merupakan pengejawantahan amanat konstitusi.

Di sisi lain, pemerintah juga perlu mewaspadai dinamika geopolitik global yang berpotensi mengganggu rantai pasok logistik, termasuk alat kesehatan dan obat-obatan.

Dia menyoroti sejumlah obat-obatan tertentu yang masih mengandalkan impor sehingga rawan terdampak gejolak global.

Menurutnya, kondisi ini menuntut kewaspadaan dari seluruh pihak.

"Khususnya terkait dengan distribusi obat-obatan tertentu yang memang masih import. Nah, di sinilah kita semua harus tetap kritis terhadap lingkungan yang terjadi di dunia dan waspada.

Negara terus berupaya untuk memberikan yang terbaik kepada rakyat, seperti yang sudah ditegaskan dalam pembukaan Undang-Undang Dasar 1945," pungkas Wiyagus.

>>> Bukan Cuma Nonton Konser Musik, Ini 3 Destinasi Wajib Mampir Saat Kamu ke Jazz Gunung Bromo 2026

Kunjungan kerja tersebut turut dihadiri Wakil Menteri Kesehatan Benjamin Paulus Octavianus, Wali Kota Medan Rico Tri Putra Bayu Waas, Direktur Utama RSUP H. Adam Malik Zainal Safri, Direktur RSUD Dr. Pirngadi Suhartono, serta jajaran Forkopimda Provinsi Sumatera Utara dan Kota Medan.