Beban Fiskal dan Rekomendasi

Pengamat Energi Universitas Padjadjaran Yayan Satyakti memproyeksikan jika harga minyak Brent bertahan di kisaran US$94 per barel, beban fiskal negara melonjak hingga Rp15 triliun per bulan atau Rp180 triliun per tahun.

Angka tersebut 2,5 kali lipat dibanding asumsi APBN di US$70 per barel yang hanya membutuhkan tagihan Rp5,9 triliun per bulan.

Yayan menilai pemerintah tidak perlu terburu-buru mengubah asumsi harga minyak di APBN.

Ia merekomendasikan penerapan aturan dua minggu: jika lonjakan harga bertahan lebih dari 14 hari, maka hal itu mengindikasikan perubahan tingkat harga baru dan pemerintah perlu melakukan revisi formal APBN atau penyesuaian harga BBM.

Jika kenaikan harga BBM tak terhindarkan, Yayan menyarankan penyesuaian bertahap pada BBM non-subsidi seperti Pertamax menuju harga keekonomian sekitar Rp14.100 per liter saat Brent US$94 per barel.

>>> 6 Cara Memakai Parfum Lokal agar Wanginya Tahan Lama dan Berkesan

Ia juga mengingatkan agar pemerintah berhati-hati terhadap dampak spasial, terutama untuk kawasan Indonesia Timur.