Proses ini dikenal sebagai impression management, yaitu kecenderungan manusia membangun kesan melalui cara berbicara, berperilaku, maupun berpenampilan.

Dalam dunia politik, pilihan busana pejabat juga menjadi bagian dari upaya membangun kesan di mata publik.

Masalahnya, makna sebuah simbol tidak hanya ditentukan oleh penggunanya, melainkan lahir dari cara publik menafsirkannya. Simbol yang dimaksudkan untuk menunjukkan profesionalisme dapat dianggap sebagai simbol kemewahan.

Penampilan yang dimaksudkan untuk menunjukkan kesuksesan juga dapat dibaca warga sebagai tanda melebarnya jarak antara elite dan rakyat.

Fenomena ini menjelaskan mengapa unggahan mengenai harga pakaian pejabat mampu menarik perhatian publik, termasuk dalam bentuk posting akun Cabinet Couture.

Yang diperdebatkan masyarakat sebenarnya bukan nilai ekonominya saja, melainkan makna sosial yang melekat pada barang-barang tersebut.

Sebuah jam tangan tidak lagi dipandang hanya sebagai penunjuk waktu, sementara tas atau sepatu tidak lagi sekadar aksesori.

Ketika dikenakan oleh pejabat publik, benda-benda itu berubah menjadi simbol status sekaligus simbol hubungan antara kekuasaan dan masyarakat.

Penelitian perilaku konsumen menunjukkan bahwa barang mewah sering berfungsi sebagai penanda status sosial (conspicuous consumption).

Psikologi juga menunjukkan bahwa manusia secara alamiah cenderung membandingkan dirinya dengan orang lain (social comparison).

>>> Kronologi Lengkap Dugaan Penculikan Jesslyn Wijaya Lay, Atlet Golf Putri Berprestasi yang Mendadak Hilang di Jakarta Pusat

Ketika media sosial memperlihatkan kontras antara kehidupan elite dan masyarakat, terutama di tengah ekonomi yang menghimpit, yang muncul bukan hanya rasa kagum atau iri, melainkan juga persepsi mengenai semakin lebarnya jarak sosial.

Manusia sering kali membentuk penilaian moral secara spontan dan intuitif sebelum menyusun alasan rasional.

Ketika masyarakat melihat pejabat mengumbar simbol kemewahan yang kontras dengan pengalaman hidup mereka, pertanyaan yang muncul bukan lagi "Berapa harga tas itu?"