>>> AS Kerahkan Jet Tempur Siluman F-35 ke Timur Tengah, Ancam Iran

Dalam kesempatan itu, Gus Ipul mempersilakan siswa yang ingin berbicara. Calysta (12) menceritakan pengalaman pertamanya: "Pertama nangis, kedua kangen orang tua, ketiga sudah terbiasa."

Ada pula Jessi yang sempat putus asa karena tidak dapat melanjutkan pendidikan. Ayahnya bekerja sebagai ojek online dan ibunya ibu rumah tangga.

Berkat Sekolah Rakyat, ia bisa melanjutkan sekolah.

"Sebelum masuk ke sini saya berdoa apakah saya masih punya masa depan yang layak untuk ke depannya atau saya berhenti sampai di titik ini saja.

Tapi ketika saya berdoa kemudian ditemukan jawabannya dengan Sekolah Rakyat ini," ucap Jessi.

Ia juga sempat khawatir sebagai minoritas karena berbeda keyakinan. Namun teman-temannya sangat welcome dan merangkul.

"Jadi waktu awal ke sini jujur saya kenal teman-teman pada hari pertama, mereka sangat welcome sama saya padahal bisa dibilang kami berbeda keyakinan, tapi mereka sangat merangkul dan baik," ucapnya.

Gus Ipul mengingatkan bahwa di Sekolah Rakyat tidak boleh ada perundungan, penghinaan suku atau agama, kekerasan fisik dan seksual, serta intoleransi.

"Tidak boleh juga melakukan tindakan intoleransi yang tidak mau menghormati siapapun," tegasnya.

Menutup pertemuan, Gus Ipul mengajak siswa berdoa bersama. Ia juga meninjau asrama dan gedung permanen Sekolah Rakyat.

>>> Rekor 22 Gol Mbappe di Piala Dunia 2026 Gagal Bawa Prancis ke Final

Saat ini, hasil penjangkauan siswa baru di Sekolah Rakyat DKI Jakarta mencatat 90 siswa jenjang SMA, 90 siswa jenjang SMP, dan 27 siswa jenjang SD.