2. Jejak Digital dan Keganjilan: Les Bahasa Korea di LPK Khusus

Keputusan agen travel "Berani Backpacker" untuk tidak diam begitu saja setelah kembali ke tanah air membuahkan hasil. Dalam upaya mencari klarifikasi, pihak agen melakukan penelusuran latar belakang Femas di kota asalnya, Madiun. Di sinilah sebuah keganjilan besar terungkap yang mengubah arah penyelidikan kasus ini.
 
Ditemukan fakta bahwa sebelum keberangkatannya, Femas secara aktif mengikuti kursus bahasa Korea. Namun, yang membuat alis terangkat adalah tempat ia belajar. Femas tidak mengambil kelas di lembaga kursus bahasa umum yang biasa dipilih oleh wisatawan biasa. Sebaliknya, ia terdaftar sebagai peserta di sebuah Lembaga Pelatihan Kerja (LPK) yang secara khusus mempersiapkan calon pekerja untuk ditempatkan di Korea Selatan.
 
Fakta ini menjadi potongan puzzle yang sangat signifikan. Dalam dunia keimigrasian, mengikuti pelatihan di LPK khusus Korea sering kali dikaitkan dengan niat untuk bekerja, bukan sekadar berwisata. Hal ini memperkuat dugaan kuat dari pihak agen travel bahwa "liburan" Femas sebenarnya adalah kedok. Ada indikasi kuat bahwa ia telah merencanakan pemisahan diri dari rombongan sebagai strategi untuk mencari peluang kerja ilegal atau menetap lebih lama di Korea Selatan.
 

3. Dinding Penyanggahan: Peran Keluarga yang Penuh Kontradiksi

Dalam setiap kasus hukum, dinamika keluarga sering kali menjadi babak yang paling emosional dan kompleks. Hal ini juga terjadi dalam kasus Femas. Pihak "Berani Backpacker" mulai menaruh curiga pada keluarga Femas, terutama sang ibu yang tercatat secara resmi sebagai sponsor atau penjamin dalam dokumen perjalanan anaknya.
 
Ketika perwakilan agen travel mendatangi kediaman sang ibu di Kecamatan Wungu, Madiun, jawaban yang diterima terasa tidak meyakinkan. Sang ibu awalnya bersikukuh bahwa ia tidak tahu menahu mengenai rencana perjalanan Femas. Ia bahkan mengklaim bahwa seluruh dokumen perjalanan, termasuk visa dan jaminan, diurus oleh Femas sendiri tanpa sepengetahuannya.
 
Namun, fakta di lapangan berbicara lain. Penyelidikan internal agen travel menemukan bahwa sang ibu secara pribadi pernah mencetak rekening koran di bank, sebuah dokumen krusial yang biasanya dipersyaratkan untuk pengajuan visa. Mustahil seseorang melakukan hal tersebut tanpa mengetahui tujuan pengambilan dokumen itu.
 
Lebih jauh lagi, terungkap bahwa sang ibu telah menghapus jejak percakapan teks dan riwayat panggilan telepon dengan Femas. Alasan yang diberikan adalah "rasa kesal". Namun, yang lebih janggal adalah klaim sang ibu bahwa Femas sudah tidak pulang ke rumah selama sebulan sebelum berangkat. Klaim ini langsung dipatahkan oleh keterangan tetangga sekitar yang dengan yakin menyatakan melihat Femas melaksanakan salat Jumat di rumah mereka tak lama sebelum ia bertolak ke Korea Selatan. Kontradiksi ini menciptakan narasi bahwa ada upaya sistematis dari keluarga untuk menutupi rencana sebenarnya dari Femas.