Ia mencatat bahwa rutinitas hariannya telah berubah menjadi pola psikologis yang mengendalikan hidupnya.

"Itu sebagian menjelma menjadi etos kerja, tapi sebenarnya itu hanya perilaku obsesif," katanya.

Parsons mengakui bahwa persiapannya yang sangat teliti didorong oleh pola mental yang mendasar, bukan sekadar profesionalisme.

"Ya, saya disiplin. Ya, saya punya etos kerja yang baik, tapi sebagian besar karena itu sifatnya OCD," ujarnya.

Ia menggambarkan bagaimana ia membuat daftar mental yang harus diselesaikan agar merasa nyaman dan yakin bisa melakukan pekerjaannya dengan benar.

"Saya punya daftar hal di kepala yang harus saya selesaikan agar bisa merasa nyaman dan tahu bahwa saya bisa melakukan pekerjaan dengan benar, yang saya rasa tidak benar," katanya.

Melihat ke belakang, Parsons mengaku tidak yakin apakah kesuksesannya membutuhkan pengorbanan emosional seberat itu.

"Saya benar-benar tidak tahu," ujarnya.

Ia berkomentar bahwa posisinya saat ini tidak terlepas dari masa-masa penuh gejolak itu.

"Dengan cara yang sama, saya tidak bisa kembali. Saya tidak tahu apakah saya akan berada di posisi saya sekarang jika tidak melalui masa itu," katanya.

Parsons menyimpulkan dengan merenungkan hubungan rumit antara pencapaian artistik dan perjuangan pribadi.

"Dan sifat menyiksa diri itu adalah bagian dari semuanya," ujarnya.

Ia mengaku tidak tahu nasihat apa yang bisa diberikan kepada orang lain yang menghadapi tekanan karier serupa.

>>> Game Porting Toolkit 4 Beta Bikin Mac Gaming Makin Bertenaga

"Jadi, saya tidak tahu harus berkata apa kepada orang-orang... Saya tidak tahu seberapa banyak dari itu yang diperlukan," pungkasnya.