Ulang tahun Obin masih sepekan lagi, namun suasana hangat sudah terasa di BINhouse pada awal Juli lalu.

Sahabat dekat dan kolega berkumpul di butik desainer yang lebih suka dipanggil Tukang Kain itu, bukan untuk melihat koleksi baru, melainkan menikmati santapan khas Nusantara buatannya.

>>> Tips Menjaga 10 Perangkat Elektronik Tetap Awet dan Kencang di 2026

Selembar daftar menu tulisan tangan Obin menyambut tamu di setiap bangku. Rumah jadul era 60-an yang masih dipertahankan sebagai butik itu berubah seperti restoran dengan meja makan bundar.

Koleksi busana dan kain tenun batik tetap terpajang. Sembari menunggu waktu makan, tamu bisa melihat-lihat kreasi Obin yang legendaris.

"Zamri di mana?! Sudah sampai ya?

Yuk makan, lapar oiii!" seru perempuan 71 tahun itu.

Ia berkebaya sederhana dipadu kain batik seperti biasa.

Setelah memastikan kehadiran Zamri Mamat, Deputy CMO Plaza Indonesia, Obin langsung mengajak semua bersantap. Makan di sini harus dengan perut kosong karena tamu dijamu berbagai hidangan.

Menu utama terdiri dari mie kangkung, ayam goreng hitam dengan bumbu taburan asin, sayur urap, dan stik lidah.

Sebagai pembuka, ada otak-otak tenggiri.

Untuk pencuci mulut, tersedia buah dukuh dan manggis, es shanghai, puding coklat, dan bugis mandi.

>>> Laba TSMC Melonjak 77 Persen Berkat Permintaan Chip AI Global

Di bawah menu tertulis "Salam sayang, Obin", menandakan semua makanan disiapkan dengan penuh perhatian.

Hasilnya adalah pengalaman kuliner yang memanjakan lidah dan memberi rasa bahagia. "Inilah yang namanya gastronomi," tutur Obin.

Ia menjelaskan, gastronomi bukan sekadar makanan, melainkan terkait asal-usul budaya, siapa yang memasak, dan bersinggungan dengan antropologi. "Kita tidak mungkin bikin otak-otak kalau tidak punya ikan tenggiri.