Argentina memastikan tempat di babak final Piala Dunia setelah mengalahkan Inggris dengan skor 2-1. Namun, kemenangan ini tidak lepas dari kontroversi yang menyeret nama Lionel Messi.

Messi, kapten tim Argentina, mendapat julukan 'Princess FIFA' dari para pengamat dan penggemar di media sosial. Mereka menuduh FIFA memperlakukan Messi dan Argentina sebagai 'anak emas'.

>>> Heboh! Jude Bellingham Diduga Provokasi Lionel Messi Usai Inggris Tunduk 1-2 dari Argentina di Semifinal Piala Dunia 2026: Ronaldo Lebih Baik

Meme-meme yang menampilkan Messi berdandan seperti putri kerajaan pun beredar luas. Salah satu sindiran berbunyi, 'Carilah pria yang memperlakukanku seperti FIFA memperlakukan Messi.'

Tuduhan favoritisme sebenarnya sudah muncul sejak Piala Dunia 2022. Namun, isu ini kembali menguat setelah Argentina menang dramatis 3-2 atas Mesir di babak sebelumnya.

Pelatih Mesir, Hossam Hassan, secara terbuka menyebut pertandingan itu tidak adil. Ia merasa timnya dicurangi setelah wasit membatalkan gol Mesir dan tidak menyelidiki pelanggaran Argentina.

"Mungkin mereka ingin mempertahankan juara dunia di kompetisi ini. Mungkin mereka ingin Messi tetap bertahan," ujar Hassan kepada beIN Sports.

Sebagian pihak menuding FIFA ingin Messi bertahan di Piala Dunia demi menjaga jumlah penonton. Apalagi, Portugal sudah tersingkir sehingga Cristiano Ronaldo tidak lagi tampil.

>>> Google Buka Program Akses Katalog Play untuk Toko Aplikasi Pihak Ketiga

Bantahan dari Kubu Argentina dan FIFA

Manajer Argentina, Lionel Scaloni, membantah tuduhan favoritisme. "Orang-orang telah mengatakan hal seperti itu sejak lama.

Media sosial memperbesar segalanya. Tidak ada favoritisme sama sekali," katanya.

Kepala wasit FIFA, Pierluigi Collina, juga menepis klaim tersebut. Ia menegaskan bahwa diskusi tentang keputusan wasit adalah hal wajar, tetapi tuduhan tanpa dasar tidak boleh dibiarkan.

FIFA dan presidennya, Gianni Infantino, memang kerap dituduh terlibat praktik korupsi.

>>> OnePlus Dikabarkan Hentikan Operasi di AS dan Eropa, India Menyusul 2027

Pada Piala Dunia 2026, kritik muncul karena kedekatan Infantino dengan Presiden AS Donald Trump, terutama setelah Trump menelepon Infantino sebelum pencabutan skorsing kartu merah pemain AS.