Data terbaru menunjukkan konsumsi mi instan global kini mencapai sekitar 123 miliar porsi setiap tahun. China menjadi konsumen terbesar dengan lebih dari 43,8 miliar bungkus per tahun.

Indonesia berada di posisi kedua dengan sekitar 14,68 miliar porsi, disusul India dengan 8,32 miliar porsi.

Namun jika dihitung berdasarkan jumlah penduduk, Vietnam menjadi negara paling gemar mengonsumsi mi instan dengan rata-rata 81 porsi per orang setiap tahun.

Posisi berikutnya ditempati Korea Selatan dengan 79 porsi, sementara Thailand berada di urutan ketiga dengan 58 porsi per kapita.

>>> Polisi Tangkap Pria Bersenjata Setelah Penggerebekan di Duluth

Menurut World Instant Noodles Association (WINA), tingginya konsumsi di Vietnam tidak lagi sekadar didorong faktor harga murah.

Konsumen kini mulai beralih ke produk premium yang menawarkan kualitas dan nilai tambah. Sementara di Amerika Serikat, tren makanan bercita rasa Asia dan mi pedas terus meningkatkan penjualan.

Pada 2024, konsumsi mi instan di Negeri Paman Sam mencapai sekitar 5,15 miliar porsi, menjadikannya pasar terbesar keenam di dunia.

Bukan Sekadar Makanan Murah

Chef asal Hong Kong, David Lai, punya pandangan berbeda mengenai mi instan.

Pemilik restoran Neighborhood yang masuk daftar Asia's 50 Best Restaurants 2026 itu menyebut mi instan sebagai comfort food terbaik.

"Saya suka mi instan. Ini adalah comfort food ketika lapar tetapi tidak punya banyak waktu atau sedang malas memasak," ujar Lai.

Menurutnya, mi instan merupakan makanan yang demokratis karena bisa dinikmati hampir semua kalangan.

Ia bahkan menganggap mi instan sebagai bahan masakan yang sah untuk diolah menjadi hidangan kelas restoran.

Dalam salah satu kreasinya, Lai memasak mi instan bersama mentega, lemak sapi, tomat, dan kaldu hingga menghasilkan tekstur renyah sekaligus kenyal.