Klarifikasi Icha Chellow dan Mala Agatha: Kami Bukan Satu-satunya

Merespons badai kritik yang semakin kencang, Mala Agatha dan Icha Chellow memilih untuk tidak diam. Pada Selasa (14/7/2026), Mala Agatha mengunggah sebuah video klarifikasi di akun Instagram pribadinya. Dengan nada yang berusaha tetap santun namun tegas, Mala menyampaikan pesan langsung kepada Anisa Bahar.
 
"Salam santun buat Mami Anisa. Menanggapi video yang sedang viral belakangan ini, sebenarnya bukan hanya aku dan Icha yang menyanyikan lagu itu," ujar Mala dalam video tersebut.
 
Pernyataan ini diperkuat oleh Icha Chellow yang turut hadir dalam sesi klarifikasi. Icha mengungkapkan kebingungannya atas fokus kemarahan publik yang seolah-olah hanya tertuju pada dirinya dan Mala Agatha. Padahal, menurut penuturannya, ada nama lain yang juga turut serta dalam penampilan kontroversial tersebut, yakni DJ Zhu.
 
"Kenapa netizen lebih menyorot aku sama Kak Mala, padahal yang menyanyikan lagu itu juga ada DJ Zhu?" tanya Icha dengan nada mempertanyakan ketimpangan sorotan publik yang beredar di media sosial.
 

Dilema DJ Zhu: Terjepit di Antara Kontrak dan Tekanan Publik

Kehadiran DJ Zhu dalam video klarifikasi tersebut membawa dimensi baru dalam kasus ini. Ia mengungkapkan realitas pahit yang sering kali tidak terlihat oleh publik, yaitu dinamika kekuasaan antara artis dan produser dalam industri hiburan.
 
DJ Zhu menjelaskan bahwa mereka yang tampil di atas panggung sejatinya hanya menjalankan pekerjaan sesuai dengan apa yang telah disepakati dalam kontrak dengan pihak produser. Ia mengaku sejak awal telah menyadari adanya risiko moral dan sosial atas lagu yang dibawakan tersebut. Namun, posisi mereka sebagai artis yang terikat perjanjian membuat mereka berada dalam situasi yang sangat sulit.
 
"Kami di sini hanya terikat kontrak. Sebenarnya kami juga tahu konsekuensinya bisa seperti ini. Tapi kalau dikerjakan salah, tidak dikerjakan juga bisa dianggap wanprestasi karena kami memiliki perjanjian dengan produser," ungkap Zhu dengan nada yang terdengar frustrasi.
 
Pernyataan ini menyoroti kerentanan posisi para pekerja seni, yang sering kali harus memilih antara menjaga integritas pribadi atau menghadapi tuntutan hukum berupa gugatan wanprestasi (ingkar janji) dari perusahaan produksi yang membiayai proyek tersebut.