Proyeksi Ekonomi RI 2026: IMF 5 Persen vs Pemerintah 5,4 Persen
com, Senin (13/7).
Yusuf menilai perbedaan angka proyeksi mencerminkan cara membaca risiko yang berbeda.
>>> Raymond Chin: Gemini AI Selamatkan Saya dari Jerat Hukum
Pemerintah lebih percaya pada kekuatan permintaan domestik, stimulus konsumsi, serta perbaikan akses ekspor melalui penurunan tarif dengan Amerika Serikat (AS).
Sementara itu, IMF memberi bobot lebih besar pada risiko eksternal, seperti perlambatan global, ketidakpastian geopolitik, dan volatilitas komoditas.
"Asumsi pertumbuhan pemerintah juga berfungsi sebagai dasar penyusunan APBN, sehingga wajar jika lebih optimistis karena menjadi target kebijakan," terangnya.
Jika realisasi akhirnya meleset ke angka IMF, Yusuf memperingatkan basis penerimaan pajak (PPN dan PPh) akan menyusut akibat mengecilnya PDB nominal.
Hal ini berpotensi menekan defisit APBN tetap di bawah 3 persen sehingga pemerintah terpaksa harus memotong belanja atau menambah utang.
Senada, Analis Senior Indonesia Strategic and Economic Action Institution (ISEAI) Ronny P Sasmita menilai target 5,4 persen pemerintah lebih mencerminkan aspirasi kebijakan daripada realita lapangan.
Menurutnya, angka 5 persen milik IMF jauh lebih masuk akal di tengah ketidakpastian global seperti suku bunga tinggi dan perlambatan mitra dagang utama.
Ronny mengatakan pemerintah kerap dinilai terlalu tinggi mengestimasi dampak berganda (multiplier effect) dari investasi, proyek strategis nasional (PSN), hilirisasi, dan kekuatan konsumsi domestik.
Sementara itu, risiko eksternal justru sering kali diabaikan.
"IMF cenderung lebih konservatif karena melihat faktor global secara lebih ketat, termasuk potensi perlambatan ekonomi dunia dan dampaknya terhadap ekspor serta arus modal," jelas Ronny.
Ia mewanti-wanti dampak signifikan terhadap APBN jika pertumbuhan mandek di level 5 persen. Selain jatuhnya penerimaan pajak dan menyempitnya ruang fiskal, rasio defisit terhadap PDB berisiko melebar.
Ronny menilai situasi ini akan menjebak pemerintah pada pilihan dilematis, yaitu melakukan penyesuaian belanja (spending cut) atau menggenjot pembiayaan utang baru.
>>> Semeru Erupsi 4 Kali Pagi Ini, Kolom Abu Tembus 1.300 Meter
"Secara kritis, ini menunjukkan bahwa menetapkan target pertumbuhan yang terlalu optimistis tanpa buffer (bantalan) kebijakan yang memadai justru bisa meningkatkan risiko fiskal di tengah ketidakpastian ekonomi global," jelasnya.
Update Terbaru
Avengers Doomsday: Durasi 2 Jam 45 Menit, Fans Terbelah
Selasa / 14-07-2026, 16:49 WIB
ABC Secret Savings Hadirkan Diskon Perlengkapan Outdoor
Selasa / 14-07-2026, 16:49 WIB
Rekor Mbappe vs Yamal: Mbappe Selalu Kalah di Laga Eliminasi
Selasa / 14-07-2026, 16:48 WIB
Trump Kembali Perkecil Dua Monumen Nasional Utah
Selasa / 14-07-2026, 16:44 WIB
Freeport Targetkan Smelter Gresik Beroperasi Lagi September 2026
Selasa / 14-07-2026, 16:44 WIB
Ketua MPR Sampaikan Undangan Iran untuk Presiden Prabowo
Selasa / 14-07-2026, 16:43 WIB
Joe Amabile, Bintang 'Bachelor in Paradise', Didiagnosis Tumor Otak
Selasa / 14-07-2026, 16:42 WIB
Persija Resmi Datangkan Kyohei Yoshino, Gelandang Berpengalaman Jepang
Selasa / 14-07-2026, 16:42 WIB
Prancis vs Spanyol: Superkomputer Opta Jagokan Les Bleus ke Final Piala Dunia 2026
Selasa / 14-07-2026, 16:42 WIB
Wamendagri: Poral TNI AL Bukti Komitmen Bangun SDM Unggul
Selasa / 14-07-2026, 16:42 WIB
Jalan Tendean Ditutup Imbas Pembongkaran JPO, Kemacetan Mengular
Selasa / 14-07-2026, 16:42 WIB
Polisi Bawa Koper Pink ke Kejagung, Serahkan Berkas Perkara Febrie Adriansyah
Selasa / 14-07-2026, 16:42 WIB
Bom Rakitan Meledak di MAN 3 Padang, Pelaku Siswa Berinisial R
Selasa / 14-07-2026, 16:42 WIB
Inggris vs Argentina: Messi Berbahaya di Dalam dan Luar Kotak Penalti
Selasa / 14-07-2026, 16:39 WIB







