Detik-detik Mencekam di Dalam Kabin

Karena petugas tidak kunjung datang setelah pesan tersebut, korban akhirnya tertidur lelap dalam posisi tubuh yang tertutup selimut. Beberapa saat kemudian, ia terbangun karena merasa ada yang menepuk tubuhnya. Korban membuka mata dan menyadari bahwa orang yang datang adalah kru yang sebelumnya menghubunginya melalui WhatsApp.
 
Dengan itikad baik, korban sempat berpindah ke kursi dekat jendela, mengira sang helper hendak memperbaiki posisi sandaran kursi sesuai tawaran sebelumnya. Namun, situasi yang terjadi justru sangat jauh dari ekspektasi dan berubah menjadi momen yang mencekam.
 
Alih-alih memperbaiki kursi, helper tersebut justru duduk di kursi korban, menggunakan selimut milik korban sebagai bantal, dan mulai menyentuh rambutnya sambil melontarkan komentar mengenai kondisi rambut korban setelah tidur. Merespons sentuhan yang tidak diinginkan ini, korban secara refleks menepis tangan helper tersebut karena sudah merasa sangat tidak nyaman.
 
Namun, aksi pelaku tidak berhenti di situ. Helper tersebut kemudian menawarkan agar korban bersandar di bahunya dengan kalimat, "Bobo sini," sambil menunjuk bahunya sendiri. Setelah korban menolak dengan tegas, pelaku justru nekat menarik kepala korban ke arah bahunya. Beruntung, korban sigap menghindar dari percobaan kontak fisik yang lebih jauh tersebut.
 
"Refleks aku langsung nepis tangannya karena sudah merasa tidak nyaman. Habis itu dia bilang, 'bobok sini,' sambil nunjuk bahunya. Aku langsung nolak dan bilang tidak mau. Tapi bukannya berhenti, dia malah menarik kepalaku ke arah bahunya. Aku langsung menghindar," tulis korban dalam utasnya yang kini menjadi bukti digital atas kejadian tersebut.
 
Korban menambahkan bahwa helper tersebut tetap bertahan di kursi sebelahnya hingga tertidur. Selama periode ini, kaki helper beberapa kali bersentuhan dengan kaki korban, memaksanya untuk terus-menerus mengangkat kakinya guna menghindari kontak fisik yang semakin mengganggu batas personalnya.