Kisah Tom memilukan karena mengingatkan bahwa kehebatan sejati sering datang dari mereka yang tidak pernah menerima pengakuan yang layak.

Masa lalu Brook yang memilukan adalah salah satu kisah paling emosional di One Piece, dan nasib Bajak Laut Rumbar tidak mungkin dilupakan.

Setelah memasuki Segitiga Florian, kru diracuni oleh musuh selama pertempuran. Tanpa penawar dan tanpa harapan mencapai keselamatan, setiap anggota menyadari hidup mereka akan segera berakhir.

Alih-alih menghabiskan momen terakhir dalam keputusasaan, mereka memilih menghadapi kematian bersama dengan musik yang selalu menyatukan mereka.

Saat setiap kru perlahan menyerah pada racun, Brook menyarankan merekam satu pertunjukan terakhir lagu favorit mereka, 'Binks' Sake'.

Kru tersenyum, tertawa, dan terus bermain bahkan ketika jumlah mereka berkurang. Brook selamat hanya karena Buah Revive-Revive, tetapi saat jiwanya kembali ke tubuhnya, tubuhnya telah membusuk menjadi kerangka.

Ia terbangun sendirian, dikelilingi sisa-sisa teman yang baru saja ia saksikan mati.

Tragedi tidak berakhir di situ.

Brook menghabiskan puluhan tahun hanyut di laut dengan hanya kenangan rekan-rekannya yang gugur dan janji untuk bersatu kembali dengan Laboon, paus yang setia menunggu di Reverse Mountain.

Janji itu menjadi tujuan kehidupan keduanya. Konser terakhir Bajak Laut Rumbar tetap menjadi salah satu adegan paling emosional dalam seri ini.

Penghancuran Ohara tetap menjadi salah satu babak tergelap dalam sejarah One Piece.

Nico Olvia dan para sarjana pulau itu mengabdikan hidup mereka untuk mempelajari sejarah, berharap mengungkap kebenaran di balik Void Century yang misterius.

Penelitian mereka mengancam Pemerintah Dunia, yang menganggap upaya menguraikan Poneglyph sebagai kejahatan serius.

Alih-alih membiarkan pengetahuan menyebar, pemerintah memerintahkan Buster Call yang menghancurkan yang menghapus pulau itu dari peta.