Selain itu, pemasangan banyak implan dalam satu prosedur juga memiliki risiko tinggi.

Merasa ada kejanggalan, keluarga Li melaporkan klinik tersebut kepada dinas kesehatan setempat sebanyak tiga kali.

Mereka menemukan sejumlah dugaan pelanggaran, mulai dari rekam medis yang tidak lengkap hingga data pasien yang mencantumkan jenis kelamin Li sebagai perempuan.

Dokumen konsultasi dengan dokter jantung baru diserahkan enam bulan setelah tindakan dilakukan sehingga keluarga meragukan keasliannya.

Hasil penyelidikan dinas kesehatan yang diumumkan pada Juli menyatakan bahwa klinik tersebut melakukan berbagai pelanggaran.

Pelanggaran itu termasuk tidak menawarkan pilihan pengobatan lain, tidak melakukan pemeriksaan kesehatan secara menyeluruh sebelum operasi, serta tidak menyimpan rekam medis sesuai standar.

Sebagai sanksi, pihak berwenang memerintahkan klinik mengembalikan seluruh biaya pengobatan kepada Li dan menghentikan sementara operasional klinik untuk menjalani perbaikan.

Kasus ini juga memicu kemarahan publik.

>>> Bank bjb dan Kemnaker Jalin Kerja Sama Tingkatkan Kompetensi SDM Nasional

Banyak warganet menilai Li sangat beruntung masih selamat setelah seluruh giginya dicabut dalam satu kali tindakan, sementara yang lain menyebut tindakan klinik tersebut sangat membahayakan keselamatan pasien.