Undangan acara Pixel Google sudah dikirim, dan bocoran spesifikasi Pixel 11 serta Tensor G6 mulai ramai diperbincangkan.

Di forum teknologi, banyak yang menilai Tensor G6 sebagai kemunduran. Jumlah core CPU berkurang dan GPU-nya dinilai ketinggalan zaman.

>>> Modal Usaha Rakyat Makin Ringan, Prabowo Turunkan Bunga dari 22% Jadi 8%

Namun, melihat lebih dalam, keputusan Google justru menunjukkan pemahaman yang lebih matang tentang apa yang benar-benar dibutuhkan pengguna.

Mengapa Kehilangan Satu Core CPU Bukan Masalah Besar

Kekhawatiran utama adalah Tensor G6 yang dikabarkan hanya memiliki tujuh core CPU, sementara flagship Android lain delapan core.

Namun, bocoran menunjukkan core utama adalah ARM C1-Ultra 4,11 GHz, empat C1-Pro 3,38 GHz, dan dua C1-Pro 2,65 GHz.

Dengan konfigurasi ini, Google melompati satu generasi penuh arsitektur ARM.

GPU PowerVR yang disebut-sebut lawas juga bukan masalah besar untuk penggunaan sehari-hari.

Kecepatan berkelanjutan (sustained speed) lebih penting daripada kecepatan puncak yang hanya bertahan sebentar.

Efisiensi Jadi Prioritas, Bukan Angka Benchmark

Mengincar angka benchmark tinggi justru merugikan pengalaman nyata. Ponsel jadi panas, throttle, dan baterai cepat habis.

Google memilih jalur efisiensi. Tensor G6 dikabarkan menggunakan node TSMC N2 (2nm) yang lebih padat transistor.

Alih-alih menaikkan clock untuk skor lebih tinggi, Google mempertahankan performa dan memperpanjang daya tahan baterai.

>>> KPK Bisa Ambil Alih Kasus Febrie Adriansyah Jika Mangkrak di Kejagung

Keputusan ini dinilai lebih berharga dibanding performa gaming yang lebih baik.

Modem MediaTek: Peningkatan Terbesar yang Tak Terduga

Bintang sesungguhnya dari Tensor G6 adalah modem. Konektivitas selama ini menjadi titik lemah Pixel.

Dengan beralih dari modem Exynos Samsung ke MediaTek M90, Google berharap mengatasi masalah boros baterai saat idle dan hotspot tidak stabil.