Sebagai imbalan, British Museum akan meminjamkan harta karun dari pemakaman kapal Anglo-Saxon Sutton Hoo abad ke-7 ke museum-museum di Normandia.

Presiden Macron memuji kurator, restorator, dan insinyur yang terlibat dalam proses transfer dalam artikel yang diterbitkan di surat kabar The Times.

"Pinjaman ini berarti lebih dari sekadar memindahkan karya seni: ini adalah isyarat kepercayaan, ekspresi nyata persahabatan yang sudah lama terjalin," tulis Macron.

>>> Prabowo Blak-blakan Banyak Pihak Tolak B50: Mereka Maunya Impor

Menteri Kebudayaan Inggris Lisa Nandy menyebut momen ini bersejarah dan merupakan tindakan persahabatan yang signifikan.

"Pameran ini adalah kesempatan sekali seumur hidup untuk mempelajari periode penting dalam sejarah nasional kita dan warisan bersama dengan Prancis," kata Nandy.

Mantan diplomat Inggris Peter Ricketts menambahkan bahwa pinjaman ini menandai tingkat kepercayaan geopolitik yang mendalam.

"Macron, ketika menawarkan tapestry, saya pikir dia memahami bahwa ini akan berdampak lebih besar di Inggris daripada di Prancis, karena lebih fundamental bagi kisah nasional kita," ujar Ricketts.

Sulaman ini menampilkan 58 adegan detail dengan lebih dari 620 orang dan 737 hewan, termasuk kematian Raja Harold dan penggambaran awal Komet Halley.

Kurator proyek Millie Horton-Insch mencatat bahwa tidak adanya logam mulia kemungkinan menyelamatkan artefak ini dari kehancuran atau penggunaan ulang di zaman kuno.

"Ini bukan emas, bukan perak. Tidak ada godaan untuk memotongnya dan menjadikannya jubah atau menggunakan ulang untuk hal lain," kata Horton-Insch.

Ia menambahkan bahwa sifat visual sulaman abad pertengahan memberikan koneksi unik bagi audiens modern.

"Ini membawa orang lebih dekat pada sejarah daripada objek lain. Anda melihat sesuatu yang pernah dipegang oleh orang-orang yang hidup melalui peristiwa itu," jelasnya.

Setelah tiba, tapestry akan menjalani pemeriksaan kondisi ekstensif oleh ahli konservasi sebelum dipasang di etalase khusus museum.

Perusahaan transportasi Hizkia mengonfirmasi pengiriman sukses melalui media sosial, menyoroti kolaborasi internasional yang diperlukan.

"Ini adalah upaya tim yang melibatkan cabang Eropa dan mitra kami, menggabungkan transportasi Denmark, manajemen proyek Prancis, keahlian ilmiah Jerman, dan keahlian Belanda dalam penanganan dan pengemasan seni," tulis Hizkia.

>>> AFTECH Petakan Lima Transisi Besar untuk Masa Depan Fintech Indonesia

Penyelenggara memperkirakan sekitar 7,5 juta pengunjung akan melihat artefak ini sebelum kembali ke Prancis pada Juli 2027.