Artinya, operator harus berbagi spektrum antara dua teknologi, sehingga kapasitas 5G terbatas dan sulit memberikan pengalaman maksimal.

Sebaliknya, banyak negara Asia Pasifik seperti Kamboja, Korea Selatan, Malaysia, Selandia Baru, dan Taiwan hampir sepenuhnya menggunakan pita 3,5 GHz untuk 5G.

Australia, Hong Kong, dan Jepang bahkan menambah pita frekuensi lain untuk memperbesar kapasitas dan cakupan.

Opensignal menyebut absennya spektrum 3,5 GHz menjadi alasan utama performa 5G Indonesia tertinggal.

Langkah Pemerintah dan Prospek ke Depan

Meski demikian, kondisi mulai berubah.

Pemerintah melalui Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) tengah menyelesaikan lelang pita 700 MHz dan 2,6 GHz sebagai tambahan spektrum bagi operator.

Pita 700 MHz akan memperluas cakupan, terutama di wilayah pinggiran dan pedesaan. Sementara 2,6 GHz menambah kapasitas di perkotaan yang padat trafik.

Opensignal mengingatkan tambahan spektrum saja belum cukup. Operator butuh investasi besar membangun jaringan baru, dan masyarakat harus memiliki perangkat kompatibel.

Indonesia juga masih menunggu pelepasan pita 3,5 GHz yang menjadi target lelang berikutnya.

>>> Ann Widdecombe Meninggal di Usia 78, Jeremy Vine Beri Penghormatan

Jika semua berjalan sesuai jadwal, dalam 12 bulan ke depan akan terlihat apakah Indonesia mampu mengejar ketertinggalan.