Kucing yang menua kerap menunjukkan perubahan perilaku yang dianggap sekadar efek samping usia. Padahal, bisa jadi itu adalah tanda demensia atau sindrom disfungsi kognitif pada kucing.

Kondisi ini memengaruhi ingatan, pembelajaran, kesadaran, tidur, dan perilaku kucing lanjut usia. Sayangnya, banyak pemilik tidak menyadari gejalanya karena kucing pandai menyembunyikan rasa sakit.

>>> Tren Home Wellness Meningkat, Kualitas Air dan Udara Jadi Prioritas Keluarga

Tanda-Tanda yang Perlu Diwaspadai

Gejala demensia pada kucing bisa bervariasi.

Beberapa tanda umum meliputi disorientasi di rumah sendiri, vokalisasi berlebihan terutama di malam hari, dan perubahan pola tidur.

Kucing juga bisa lupa rutinitas, berubah interaksi sosial menjadi lebih lengket atau menarik diri, serta mengalami kecemasan, gelisah, atau mondar-mandir.

Buang air di luar kotak pasir dan berkurangnya minat bermain atau merawat diri juga patut dicurigai.

Namun, gejala tersebut belum tentu demensia.

Hipertiroidisme, penyakit ginjal, radang sendi, tekanan darah tinggi, kehilangan penglihatan atau pendengaran, serta masalah medis lain bisa menyebabkan perubahan serupa.

Pemeriksaan dokter hewan sangat penting sebelum menyimpulkan adanya penurunan kognitif.

Penelitian Terbaru: Kucing dan Alzheimer

Sebuah studi tahun 2025 yang dipimpin peneliti Universitas Edinburgh memeriksa otak 25 kucing dari berbagai usia setelah mati, termasuk kucing yang menunjukkan tanda demensia semasa hidup.

Tim menemukan penumpukan protein beta-amiloid di otak kucing tua dan yang mengalami disfungsi kognitif.

Beta-amiloid adalah protein yang sangat terkait dengan penyakit Alzheimer pada manusia. Dalam studi kucing, protein ini terakumulasi di dalam sinapsis, yaitu sambungan yang memungkinkan sel otak berkomunikasi.

Kehilangan sinapsis erat kaitannya dengan masalah memori dan berpikir pada Alzheimer manusia.