Prancis akan menghadapi Maroko pada perempat final Piala Dunia 2026 di Boston, Jumat (10/7/2026) dini hari WIB.

Laga ini menyajikan cerita yang lebih dalam dari sekadar perebutan tiket semifinal.

>>> Prabowo Resmikan Peluncuran Biodiesel B50, Lanjutan Program Mandatori

Nuansa pasca-kolonial sangat terasa, mengingat Maroko pernah berada di bawah protektorat Prancis pada 1912 hingga 1956.

Hubungan erat kedua negara tercermin dari komposisi pemain hingga persahabatan antarbintang.

Kapten Prancis Kylian Mbappe dan bek Maroko Achraf Hakimi, misalnya, pernah bermain bersama di Paris Saint-Germain.

Menurut Reuters, enam pemain dalam skuad Maroko saat ini lahir dan belajar sepak bola di Prancis sebelum memilih membela negara leluhur.

Identitas Ganda dan Atmosfer Persaudaraan

Gelandang muda Ayyoub Bouaddi menjadi contoh nyata identitas ganda dalam duel ini.

Bouaddi lahir di Prancis dan berkembang bersama Lille, sempat memperkuat tim junior Prancis, lalu memutuskan membela Singa Atlas.

>>> Jadwal Timnas Putri Indonesia di Piala AFF Wanita 2026

Fenomena diaspora ini menunjukkan keberhasilan Federasi Sepak Bola Maroko memanfaatkan talenta keturunan.

Prancis datang sebagai kandidat juara dengan skuad bertabur bintang, sementara Maroko percaya diri setelah menjadi tim Afrika pertama yang mencapai semifinal Piala Dunia 2022.

Berbeda dengan atmosfer panas di Eropa, Boston justru menghadirkan suasana hangat.

Komunitas Maroko yang besar di kota itu menciptakan hubungan harmonis antarpendukung.

"Beberapa orang tinggal di gedung yang sama, warga Prancis dan Maroko akan menonton bersama dan berjabat tangan di akhir laga," ujar suporter lokal Mohammed Saadi.

>>> Jet Tempur Kawal Peti Ali Khamenei dari Irak ke Iran

Menurut Saadi, sepak bola di Boston lebih dipandang sebagai ajang kebersamaan.