Persahabatan Prabowo yang Membuat Segalanya Istimewa

Namun, ada satu hal yang membuat momen spiritual Modi menjadi jauh lebih bermakna: kehadiran Prabowo Subianto. Modi secara terbuka menyebut Prabowo sebagai sahabatnya, dan kehadiran pemimpin Indonesia tersebut membuat acara ini terasa begitu personal dan istimewa.
 
"Sahabat saya Presiden Prabowo, kehadiran beliau di sini membuat acara ini menjadi jauh lebih istimewa... Saya berkesempatan mengunjungi kompleks kuil suci ini bersama dengan sahabat saya," ungkap Modi.
 
Di hadapan Dewa Siwa dan sang pencipta, Modi mendoakan agar hubungan Indonesia dan India semakin kuat. Ia memanjatkan doa untuk kesejahteraan rakyat kedua negara, serta kemajuan dan kemakmuran yang pesat bagi persahabatan yang telah terjalin lama.
 

Diplomasi Budaya: Menggema Mantra Mrityunjaya di Tanah Jawa

Selama tiga hari berada di Indonesia, Modi mengaku merasakan kedamaian yang luar biasa di tengah keberagaman masyarakat Nusantara. Ia memuji bagaimana bangsa Indonesia merawat warisan budaya yang berusia lebih dari seribu tahun dengan penuh cinta.
 
"Baik itu saat melakukan Yatra Kailash Mansarovar di Lhasa, maupun saat datang ke kuil suci di Indonesia ini, saya dapat mendengar mantra suci Mrityunjaya bergema, 'Om Namah Shivaya' berkumandang. Ini adalah warisan budaya kita bersama," tegas Modi.
 
Pernyataan Modi ini menegaskan bahwa hubungan Indonesia dan India tidak bisa dilepaskan dari akar peradaban. Hal ini diamini sepenuhnya oleh Presiden Prabowo.
 

Prabowo: Lebih dari Sekadar Politik dan Ekonomi

Pres Prabowo Subianto menilai kunjungan Modi ke Prambanan memiliki makna yang sangat dalam. Baginya, Prambanan adalah mahakarya peradaban dunia yang menjadi kebanggaan tidak hanya bagi Indonesia, tetapi juga umat manusia.
 
"Candi Prambanan bukan hanya simbol kejayaan sejarah dan kebudayaan Indonesia, tetapi juga pengingat akan kuatnya hubungan peradaban yang telah terjalin antara Indonesia dan India selama lebih dari 1.000 tahun," jelas Prabowo.
 
Prabowo menekankan bahwa fondasi hubungan kedua bangsa tidak hanya dibangun di atas meja perundingan politik, ekonomi, atau pertahanan. Lebih dari itu, hubungan ini berakar kuat pada nilai-nilai budaya, spiritualitas, dan pertukaran ilmu pengetahuan yang telah terjadi sejak era Kerajaan Mataram Kuno.