Umat Islam di seluruh dunia, termasuk di Indonesia, tengah berduka cita sekaligus bersuka cita menyambut bulan suci Muharram. Tepat pada Jumat, 10 Juli 2026, umat Islam tidak hanya menunaikan kewajiban shalat Jumat, tetapi juga sekaligus memperingati hari ke-10 Muharram 1448 Hijriah atau yang dikenal dengan Hari Asyura.
 
Momen istimewa ini menjadi rujukan spiritual bagi para khatib dan imam untuk mengangkat tema yang sangat menyentuh hati: Menyantuni dan Menyayangi Anak Yatim. Di Indonesia, tradisi menyantuni anak yatim pada 10 Muharram begitu lekat dan sering dijuluki sebagai Idul Yatama atau "Lebaran Anak Yatim".
 
Bagi Anda yang bertugas sebagai khatib, atau jamaah yang ingin menyimak pesan-pesan mendalam tentang keutamaan berbagi kasih di bulan yang dimuliakan ini, berikut adalah ulasan lengkap dan teks khutbah Jumat beserta dalil-dalilnya.
 

Muharram dan Fenomena "Lebaran Anak Yatim"

Sebelum melangkah pada inti khutbah, penting untuk memahami mengapa bulan Muharram dan khususnya tanggal 10 (Hari Asyura) begitu identik dengan anak yatim.
 
Muharram adalah bulan pertama dalam kalender Hijriah dan termasuk dalam kategori asyhurul hurum (bulan-bulan yang dimuliakan oleh Allah SWT). Pada bulan-bulan mulia ini, Allah SWT melipatgandakan pahala bagi hamba-Nya yang berlomba-lomba melakukan kebaikan, termasuk bersedekah dan menyantuni yatim piatu.
 
Tradisi "Lebaran Anak Yatim" di Tanah Nusantara merupakan perpaduan indah antara syariat Islam dan kearifan lokal. Pada hari ini, rumah-rumah, masjid, hingga panti asuhan ramai dikunjungi oleh anak-anak yatim. Mereka tidak hanya diberi uang saku atau makanan, tetapi juga diberi kasih sayang, pakaian baru, dan kehangatan keluarga. Ini adalah wujud nyata dari ishlah (memperbaiki keadaan) mereka.