China meluncurkan rudal jarak jauh ke Samudra Pasifik pada Senin (25/9). Rudal yang membawa hulu ledak palsu itu mendarat di perairan yang telah ditentukan.

Beijing menyebut kegiatan itu sebagai latihan militer rutin. Namun, Australia mengecam langkah tersebut sebagai tindakan destabilisasi kawasan.

>>> Evaluasi Penyelenggaraan Haji 2026: Perbaikan Signifikan, Namun Masih Ada Catatan

Pelaksana tugas Perdana Menteri Australia, Richard Marles, mengatakan pihaknya telah diberi tahu oleh China sebelum uji coba. Namun, Australia menyatakan keberatan secara formal.

"Ini adalah uji coba rudal jarak jauh, dan kami sangat prihatin terhadap tindakan yang mengancam stabilitas, perdamaian, dan keamanan Pasifik," ujar Marles.

Media pemerintah China, Xinhua, mengonfirmasi peluncuran tersebut. Rudal strategis diluncurkan dari kapal selam nuklir pada siang hari dan tepat mengenai sasaran.

Menteri Luar Negeri Australia, Penny Wong, menyoroti kurangnya transparansi China dalam ekspansi militernya. Ia menegaskan bahwa uji coba ini bertentangan dengan visi Pasifik sebagai kawasan damai.

>>> Evaluasi Penyelenggaraan Haji 2026: Perbaikan di Dalam Negeri, Layanan Arab Saudi Masih Perlu Dibenahi

"Australia telah menyampaikan kepada China bahwa kami menganggap ini sebagai tindakan destabilisasi," kata Wong. Ia juga merujuk pada komitmen Pacific Islands Forum untuk menjadikan Pasifik sebagai Samudra Perdamaian.

Data pelacakan independen menunjukkan tiga kapal pelacak satelit China berada di Pasifik untuk memantau uji coba.

Analis Mark Douglas dari Starboard Maritime Intelligence mengatakan kapal-kapal itu membawa piringan satelit besar untuk melacak peluncuran rudal.

Douglas menambahkan bahwa uji coba ini telah direncanakan jauh-jauh hari. Pemberitahuan yang muncul sehari setelah Australia dan Fiji menandatangani Ocean of Peace Alliance dinilai menarik.

>>> FL Technics Indonesia Resmikan Fasilitas Pengecatan Pesawat di Bali

Kedutaan Besar China di Australia belum memberikan tanggapan terkait operasi tersebut.