"Saya 100% yakin saya bukan jenius, tapi pada saat yang sama, saya 100% yakin saya bukan orang bodoh," ucap Ancelotti.

Ancelotti juga menjelaskan sikap tenangnya di pinggir lapangan setelah gol kemenangan Gabriel Martinelli melawan Jepang, yang ia kaitkan dengan usia dan sejarah akhir pertandingan yang tidak terduga.

"Saya tidak bisa berlari, karena lutut saya akan cedera. Saya berusia 67 tahun," katanya.

Ia mencatat bahwa pertandingan masih bisa berubah drastis di menit-menit akhir, yang membuatnya tidak merayakan terlalu dini.

"Selain itu, ketika Martinelli mencetak gol, masih ada beberapa menit tersisa.

Saya tidak bisa merayakannya karena sudah terlalu sering terjadi, pertandingan yang saya kira sudah selesai ternyata berakhir buruk," jelas Ancelotti.

Ia mengungkapkan bahwa peluit akhir di pertandingan knockout bertekanan tinggi memberikan sensasi berbeda dari kegembiraan murni.

"Saya bisa merayakan ketika pertandingan benar-benar selesai, tapi ketika pertandingan seperti itu berakhir, perasaannya lebih seperti lega daripada bahagia," ujarnya.

Ketika ditanya apakah ia berdoa saat situasi pertandingan sulit, pelatih itu memberikan perspektif pragmatis tentang iman.

"Saya Katolik, tapi saya juga berpikir Tuhan memiliki masalah yang lebih penting untuk dipikirkan," kata Ancelotti.

Beberapa anggota skuad Seleção menyatakan dukungan mereka terhadap pendekatan pelatih. Striker Endrick menyoroti bagaimana pelatih kepala memberikan kekuatan psikologis kepada tim dalam konferensi pers pada hari Rabu.

"Pelatih tidak perlu diperkenalkan. Kami tahu rekam jejaknya dan betapa hebatnya dia sebagai pemenang," kata Endrick.

Endrick mencatat bahwa ketenangan Ancelotti membantu tim menyesuaikan strategi untuk mengatasi defisit di babak pertama melawan Jepang.

>>> Badai Petir Ancam New Jersey dengan Banjir Bandang Signifikan