Partai Golkar menyuarakan harapan agar Nahdlatul Ulama (NU) lebih fokus mengawal arah bangsa daripada larut dalam politik praktis.

Hal ini disampaikan Sekretaris Jenderal Partai Golkar, M. Sarmuji, di Jakarta.

>>> DEN: Inflasi Juni 2026 Naik Jadi 3,34%, Dipicu Tiga Faktor Utama

Menurut Sarmuji, NU memiliki posisi strategis sebagai kekuatan masyarakat sipil yang mampu menjadi penyeimbang dan pemberi nasihat bagi negara.

Ia meminta NU tidak disibukkan dengan urusan siapa yang menang dalam pemilu atau pilpres.

"Dibutuhkan betul organisasi seperti NU yang bisa menasihati negara supaya tetap dalam track yang benar dengan cara yang lebih bisa diterima.

NU tidak perlu sibuk siapa yang menang pemilu dan siapa yang menang pilpres," kata Sarmuji.

Ia menambahkan, NU tidak perlu khawatir tidak mendapat "berkat politik" karena justru akan semakin diperhitungkan jika bermain di politik besar.

Sarmuji pun mengajak NU mulai menjaga jarak dari politik kecil atau politik praktis.

>>> KPK: Pengembalian Amplop Bupati Kuansing Tak Hapus Pidana

Politik Besar vs Politik Kecil

Sarmuji menjelaskan perbedaan mendasar antara politik kecil dan politik besar.

Menurutnya, jika NU lebih banyak menjadi tim sukses atau sibuk menentukan kandidat presiden, maka organisasi itu terseret ke dalam politik kecil.

Sebaliknya, jika NU fokus mengawal proses pemilu yang berkualitas sehingga suara rakyat tercermin secara adil, maka NU memainkan peran penting dalam politik kebangsaan.

"NU tentu lebih baik terlibat dalam politik besar, yakni politik kebangsaan, dengan memosisikan diri sebagai civil society yang bisa menasihati negara," jelasnya.

Ia menilai, dengan memperkuat peran sebagai penjaga nilai-nilai kebangsaan dan pemberi masukan kepada pemerintah, NU akan semakin diperhitungkan tanpa harus terjebak dalam perebutan kekuasaan praktis.

>>> Kolaborasi Dua Raksasa Teknologi Produksi Chip AI Khusus pada 2026

"Ini yang saat ini sangat kurang, civil society yang mampu menasihati negara, apalagi menasihati dengan cara yang adem penuh kelembutan seperti tradisi NU," pungkas Sarmuji.