Iran secara tegas menolak keterlibatan pihak asing dalam proses pembersihan ranjau di Selat Hormuz. Penolakan ini disampaikan langsung oleh Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baghaei.

Menurut Baghaei, pembersihan ranjau di selat strategis tersebut telah diatur dalam nota kesepahaman (MoU) yang sudah disepakati. Ia menegaskan bahwa Teheran tidak melihat perlunya intervensi dari pihak ketiga.

>>> Daftar 7 Negara Tersingkir di Babak 32 Besar Piala Dunia 2026

Pernyataan itu disampaikan Baghaei pada Senin (30/6) sebagaimana dikutip Al Jazeera. Ia merujuk pada poin 5 MoU antara Amerika Serikat dan Iran yang mengatur pembersihan ranjau.

Poin tersebut menyatakan bahwa lalu lintas kapal akan dimulai kembali dan pembersihan ranjau akan diselesaikan oleh Iran dalam waktu 30 hari.

Klausul ini memberikan hak dan kewajiban kepada Iran untuk membersihkan ranjau, sekaligus menolak campur tangan militer negara lain.

MoU tersebut telah ditandatangani secara elektronik oleh Presiden AS Donald Trump dan Presiden Iran Masoud Pezeshkian tanpa pertemuan tatap muka.

>>> Pesan Prabowo di HUT Bhayangkara: Layani Rakyat hingga Kuasai AI

Komentar Baghaei muncul setelah Presiden Prancis Emmanuel Macron menyatakan bahwa Prancis telah memutuskan untuk bekerja sama dengan mitra dalam upaya pembersihan ranjau di Selat Hormuz.

Macron mengatakan langkah itu bertujuan mengamankan jalur maritim dan memastikan jalur bebas melalui selat tersebut.

Sebelum MoU diteken, AS dan sejumlah negara Barat telah menyampaikan kekhawatiran tentang ranjau di Selat Hormuz.

Beberapa negara bahkan menggelar pertemuan militer khusus di Inggris untuk membahas keamanan pelayaran di selat itu.

>>> Perkuat Layanan, Danantara dan Bank Mandiri Gelar Sosialisasi CX100

Selat Hormuz menjadi sorotan dunia setelah AS dan Israel melancarkan serangan besar-besaran terhadap Iran pada akhir Februari. Sebagai balasan, Iran menutup selat tersebut.