Korea Selatan mengungkap sejumlah tantangan yang dihadapi perusahaan Negeri Ginseng saat masuk dan menanam modal di Indonesia.

Ketua Komite Persahabatan Korea-Indonesia, Kim Gi-Hyeon, menyampaikan hubungan ekonomi kedua negara menghadapi beberapa kendala dalam beberapa tahun terakhir.

>>> Sutradara Carl Rinsch Divonis 30 Bulan Penjara karena Tipu Netflix Rp176 Miliar

"Ada lebih banyak ketentuan sertifikasi di Indonesia yang meningkatkan hambatan non-tarif sehingga perusahaan Korea sulit masuk ke pasar Indonesia," kata Kim dalam diskusi di Majelis Nasional Republik Korea, Seoul, Selasa (9/6).

Ia juga menyoroti penghapusan insentif kendaraan listrik yang membuat Hyundai ragu melakukan investasi tambahan.

Akibat perubahan kebijakan itu, manfaat insentif justru lebih banyak dinikmati perusahaan asal China.

Padahal, Hyundai Motor Company telah memproduksi kendaraan listrik di Indonesia, seperti Kona EV dan IONIQ 5.

Kim berharap ke depannya kedua negara dapat meningkatkan kemitraan yang saling menguntungkan.

>>> Monster Hunter Stories 3: Kustomisasi Suara Diuji tapi Dibatalkan Demi Kualitas Akting

Ia menekankan pentingnya memperbesar peluang di bidang investasi ekonomi, transfer teknologi, dan pengembangan talenta.

Volume perdagangan Indonesia dan Korea Selatan pada 2025 mencapai US$18 miliar dengan Indonesia surplus 25 persen.

Pada 2024, angka tersebut mencapai US$20,09 miliar. Meski begitu, Korea masih menjadi mitra dagang terbesar ke-7 bagi Indonesia.

Realisasi investasi Korea di Indonesia dalam lima tahun terakhir mencapai US$11,5 miliar dengan pertumbuhan 8,7 persen, menempatkan Korea sebagai sumber investasi asing terbesar ke-7.

Duta Besar RI untuk Korea Selatan, Cecep Herawan, menyatakan peluang investasi antar kedua negara masih terbuka lebar di berbagai industri strategis.

>>> Prediksi Meksiko vs Ekuador di Babak 32 Besar Piala Dunia 2026

Ia menyebut potensi kerja sama di sektor kendaraan listrik, semikonduktor, energi terbarukan, dan hilirisasi industri.