Elon Musk mendapat respons keras setelah menantang publik menyebutkan satu nama korban tewas akibat pemotongan dana badan bantuan AS (USAID).

Jurnalis pemenang Pulitzer Nicholas Kristof langsung menjawab tantangan itu dengan merilis daftar nama, termasuk anak-anak yang meninggal.

>>> GIIAS 2026 Buka Tiket Presale dengan Diskon 50 Persen

Dalam unggahan di media sosial, Kristof menyebut seorang wanita 23 tahun yang meninggal saat melahirkan, bayi satu tahun di Liberia karena malaria, serta Achol Deng, anak delapan tahun di Sudan Selatan yang kehilangan akses obat HIV/AIDS.

"Saya bisa terus menyebutkan nama-nama," tulis Kristof, seraya menambahkan bahwa di hampir setiap desa di Sudan Selatan, Uganda, Liberia, dan Sierra Leone ia menemukan orang meninggal akibat pemotongan bantuan.

Krisis Kemanusiaan Akibat Pembubaran USAID

Sebelumnya, perwakilan Ro Khanna (D-CA) menuduh Musk menjatuhkan hukuman mati bagi jutaan anak dengan membubarkan USAID.

Musk membantah dan mengancam akan menuntut Khanna atas pencemaran nama baik, serta menyebut Khanna harus dipenjara.

>>> Berhenti Mencari Aplikasi Produktivitas Sempurna, Saya Membuat Sistem Sendiri

Namun, studi tahun 2025 menunjukkan dampak penghancuran USAID sangat parah, mulai dari berkurangnya bantuan pangan darurat hingga melonjaknya kasus malaria dan HIV/AIDS.

Musk, melalui Departemen Efisiensi Pemerintahan (DOGE), membubarkan USAID tahun lalu dan menyebut badan itu sebagai "organisasi kriminal" serta "jahat".

Ia bahkan menyombongkan diri telah memasukkan USAID ke dalam "penghancur kayu".

>>> Bocoran Event Gratis Free Fire 1 Juli 2026: Ada Magic Cube dan Skin Evo

Kristof menantang Musk untuk ikut dalam perjalanan peliputan dan melihat langsung anak-anak yang sekarat. Hingga kini, Musk belum menanggapi tawaran tersebut.