Martinelli: Kami Percaya Diri karena Carlo Ancelotti Bersikap Tenang di Pinggir Lapangan
Ketenangan Carlo Ancelotti di pinggir lapangan menjadi faktor utama yang membakar mentalitas skuad Brasil untuk bangkit dan menumbangkan perlawanan ketat Jepang di babak gugur Piala Dunia 2026.
Penyerang sayap Brasil, Rayan Martinelli, menegaskan bahwa sikap tenang sang pelatih menular ke seluruh pemain.
>>> Mensesneg: Urus Ekonomi Seperti Tim Sepak Bola, Perlu Koordinasi
"Dia menyuruh kami untuk bersabar, karena kami adalah tim yang selalu ingin mengendalikan permainan. Kami tahu kami akan membalikkan keadaan dan keluar sebagai pemenang," ujar Martinelli.
Brasil sempat tertinggal di babak pertama, namun tampil luar biasa setelah turun minum. Transformasi mental ini tidak lepas dari instruksi Ancelotti di ruang ganti.
Kemenangan comeback ini menjadi yang pertama bagi Brasil di fase gugur Piala Dunia sejak tahun 2002, saat mereka menundukkan Inggris 2-1.
Keputusan Taktik Ancelotti
Ancelotti mengambil keputusan berani saat jeda pertandingan. Ia menarik Lucas Paqueta yang cedera dan memasukkan penyerang muda Endrick untuk menambah daya gedor.
Gelandang Bruno Guimaraes merasakan dampak positif pergantian tersebut.
"Di babak kedua, pelatih menyuruh kami untuk lebih memaksakan diri dan menempatkan lebih banyak orang di kotak penalti.
Dari sanalah gol tercipta," katanya.
>>> Israel Masukkan Mojtaba Khamenei sebagai Target Pembunuhan
Keputusan lain yang menunjukkan kematangan Ancelotti adalah mempertahankan Casemiro di lapangan meski telah mengantongi kartu kuning sejak menit ke-14.
Kepercayaan itu dibayar lunas dengan gol penyeimbang Casemiro pada menit ke-56.
"Di babak kedua, Ancelotti meminta ketenangan sekali lagi.
Dia bersikeras agar kami tetap tenang, karena kami menekan dan bermain tinggi, sehingga peluang akan datang," ungkap Casemiro.
Gaya bermain Brasil di babak kedua memadukan urgensi tinggi dengan kesabaran. Para pemain sayap bertindak agresif namun tetap tenang saat mengalirkan bola ke sepertiga akhir lapangan.
Penyerang Matheus Cunha menambahkan bahwa rasa urgensi yang terkendali menjadi pembeda utama performa mereka.
>>> Komisaris Utama Pertamina Tinjau Fasilitas AFT Juanda dan IT Surabaya
Perubahan sikap di lapangan membuat taktik yang gagal di babak pertama justru menjadi senjata mematikan.
Update Terbaru
IHSG Anjlok 2,42 Persen ke 5.679 pada Sesi I Siang Ini
Selasa / 30-06-2026, 13:04 WIB
Masyarakat Enggan Terima Petugas Sensus, Padahal Jadi Kunci Buka Potensi Ekonomi Kreatif Indonesia
Selasa / 30-06-2026, 13:04 WIB
Rocky Gerung Sebut Tiyo Ardianto Bodoh karena Jadikan Prabowo 'Kucing'
Selasa / 30-06-2026, 13:04 WIB
Nagelsmann Kecewa Gol Jonathan Tah Dianulir saat Jerman vs Paraguay
Selasa / 30-06-2026, 13:00 WIB
Aturan Baru Pajak: Legitimasi Keberpihakan terhadap UMKM
Selasa / 30-06-2026, 12:59 WIB
MK Tolak Gugatan Mutasi PNS Minimal 10 Tahun, Ini Alasannya
Selasa / 30-06-2026, 12:59 WIB
Trump Klaim Iran Setuju Lucuti Nuklir, Teheran Bantah
Selasa / 30-06-2026, 12:57 WIB
Duel Keras Belanda vs Maroko, Dua Pemain Berdarah di Kepala
Selasa / 30-06-2026, 12:56 WIB
3 Rekomendasi Sepatu Lari Diadora Ori Termurah untuk Daily Run, Mulai Rp200 Ribuan
Selasa / 30-06-2026, 12:56 WIB
Bocoran iPhone 2027: Apple Siapkan iPhone Air 2, iPhone 18, dan iPhone Lipat
Selasa / 30-06-2026, 12:56 WIB
Latsarmil Diubah Jadi Latihan Bela Negara dan Manajerial, Ini Penjelasannya
Selasa / 30-06-2026, 12:56 WIB
Hyaluronic Acid vs Ceramide: Mana yang Lebih Ampuh untuk Kulit Kering?
Selasa / 30-06-2026, 12:56 WIB
Volkswagen Dikabarkan Akan Jual Ducati untuk Atasi Krisis Keuangan
Selasa / 30-06-2026, 12:56 WIB
Qualcomm Konfirmasi Jadwal Snapdragon Summit 2026, Chip Flagship Baru Meluncur September
Selasa / 30-06-2026, 12:56 WIB






