Balai Taman Nasional Gunung Merapi (TNGM) menegaskan bahwa jalur pendakian Gunung Merapi di wilayah D. I.

Yogyakarta dan Jawa Tengah masih ditutup hingga saat ini.

>>> Tabung Merah Putih Siap Gantikan LPG Gas Melon, Uji Coba Juli 2026

Penegasan ini disampaikan sebagai respons terhadap konten viral di media sosial yang menampilkan aktivitas pendakian dan ajakan untuk membuka jalur pendakian.

Kepala Balai TNGM, Heri Wibowo, menjelaskan bahwa penutupan jalur pendakian telah diberlakukan sejak 22 Mei 2018, menyusul peningkatan status aktivitas Gunung Merapi dari Level I (Normal) menjadi Level II (Waspada).

Pada 5 November 2020, status aktivitas kembali dinaikkan menjadi Level III (Siaga) dan hingga kini masih berlaku.

"Kegiatan pendakian Gunung Merapi untuk sementara tidak direkomendasikan kecuali untuk kepentingan penyelidikan dan penelitian berkaitan dengan upaya mitigasi bencana," kata Heri dalam keterangan resminya, Senin (29/6).

Berdasarkan laporan aktivitas Gunung Merapi periode 19-25 Juni 2026 dari BPPTKG, aktivitas vulkanik Merapi masih tergolong tinggi dengan erupsi efusif dan status gunung berada pada Level III (Siaga).

Heri menyebut suplai magma ke permukaan masih berlangsung, sehingga sewaktu-waktu dapat memicu guguran lava maupun awan panas guguran yang meluncur mengikuti alur sungai di lereng gunung.

Potensi bahaya saat ini berupa guguran lava dan awan panas di sektor selatan-barat daya, meliputi alur Sungai Boyong dengan jarak luncur maksimal 5 kilometer dari puncak.

Sementara pada alur Sungai Bedog, Krasak, dan Bebeng, potensi luncuran material vulkanik dapat mencapai jarak maksimal 7 kilometer dari puncak.

Di sektor tenggara, potensi bahaya meliputi alur Sungai Woro dengan jarak luncur maksimal 3 kilometer serta Sungai Gendol sejauh maksimal 5 kilometer dari puncak.