Penolakan terhadap narkoba tidak hanya sebatas pendapat. Galuh pernah berada dalam situasi harus menolak ajakan memakai narkoba dari seorang teman.

"Dia [temannya] pernah nawarin pakai [narkoba] bareng. Gue lupa jenisnya apa, tapi dia ngajak patungan Rp200 ribu seorang," katanya.

Ajakan itu langsung ditolak mentah-mentah. "Kayak, najis, ngapain?

Mending gue makan sushi," ujarnya sambil tertawa.

Meski menolak keras narkoba, keduanya tidak selalu memandang pengguna dengan kemarahan. Ada rasa iba, terutama kepada anak muda yang mencoba karena tekanan lingkungan atau ikut-ikutan teman.

"Kasihan sih. Kayak, ngapain?

You only live once, ngapain dihancurkan kehidupannya sendiri," kata Michelle.

Ia menangkap pola itu bisa makin berbahaya ketika pergaulan yang awalnya dekat dengan alkohol mulai merembet ke narkoba.

Karena itu, keberanian sesungguhnya bukan terletak pada mencoba narkoba, melainkan berani menolak dan keluar dari lingkungan yang tidak sehat.

>>> Vitalis Eau de Royale Couture Wangi Apa? Parfum Minimarket yang Dipuji Elegan

"Kalau lingkungan lo sudah jelek, apalagi menjurus ke narkoba atau minum-minum, menurut gue harus punya keberanian buat keluar," pungkas Galuh.