"Saya bilang tidak ada adegan di mana David jatuh cinta pada Lucy. Dia menjawab, 'Setuju.

Tulislah sesuatu.' Itu menjadi salah satu adegan terbaik," ungkap Sztybor.

in1

Ia juga menambahkan bahwa bekerja sama dengan seniman dari berbagai negara untuk komik Cyberpunk tidak menemui kendala berarti.

Ia selalu berusaha mengenal seniman terlebih dahulu agar naskahnya sesuai dengan gaya mereka.

Namun, hambatan budaya terbesar justru datang dari Studio Trigger, karena perbedaan mentalitas Polandia dan Jepang. "Cara kami memahami sesuatu dan referensi budaya sangat berbeda," katanya.

Mengenai tema cyberpunk yang masih relevan, Sztybor berpendapat bahwa genre ini kini lebih mencerminkan realitas saat ini daripada masa depan.

"Dulu orang takut pada masa depan. Sekarang, cyberpunk adalah kenyataan kita.

Saat bermain Cyberpunk 2077 atau menonton Edgerunners, kita berpikir 'oh, ini fiksi ilmiah, masih tahun 2077'. Tapi kemudian kita sadar, ini mirip dengan realitas kita," jelasnya.

Ia juga mengomentari hubungan antara Jepang dan cyberpunk. Menurutnya, Jepang identik dengan teknologi sejak 1980-an, sehingga wajar jika budaya pop Jepang sarat dengan elemen cyberpunk.

Kini, pusat cyberpunk mulai bergeser ke China.

>>> Cyberpunk Edgerunners 2 Perkenalkan Karakter Kedua Bernama D

Sayangnya, Sztybor belum bisa memberikan bocoran soal musim kedua Edgerunners. Namun, ia berharap dapat berbincang lagi setelah musim tersebut tayang.