Sebaliknya, saat Indonesia banyak melakukan impor, pelaku usaha lebih membutuhkan dolar untuk membayar barang dari luar negeri.

Akibatnya, permintaan dolar bisa naik dan rupiah bisa turun nilainya,” ujar Junanto.

in1

>>> Pertamina Patra Niaga Optimalkan Distribusi BBM di Sejumlah Wilayah

Faktor kedua berasal dari kewajiban pembayaran kepada pihak luar negeri, baik berupa utang, bunga pinjaman, maupun dividen kepada investor asing.

Ketika pembayaran jatuh tempo, kebutuhan dolar meningkat sehingga dapat memengaruhi nilai tukar rupiah.

“Indonesia ini kan punya beberapa kewajiban pembayaran pada pihak luar negeri.

Ketika pembayaran tersebut jatuh tempo, kebutuhan dolar atau mata uang asing bisa meningkat dan akan memengaruhi pergerakan rupiah,” katanya.

Selanjutnya, arus investasi asing juga menjadi penentu penting.

Masuknya modal asing ke pasar saham, obligasi, maupun investasi langsung akan meningkatkan pasokan devisa sehingga mendukung penguatan rupiah.

Sebaliknya, ketika dana asing keluar dari pasar domestik, tekanan terhadap rupiah cenderung meningkat.

“Ketika ada dana investor asing masuk ke Indonesia untuk beli saham, obligasi, atau surat berharga, saat itu akan terjadi penguatan rupiah.

Begitu pula sebaliknya,” ujar Junanto.

Selain faktor fundamental tersebut, pergerakan rupiah juga dipengaruhi sentimen pasar global.

Dalam kondisi ketidakpastian ekonomi dunia, investor biasanya mengalihkan dana ke aset yang dianggap paling aman, salah satunya dolar AS.

“Kadang pergerakan rupiah itu bukan semata karena kondisi Indonesia saja, tetapi karena adanya faktor sentimen.

>>> Infografis: Lari vs Narkoba, Mana yang Bikin Lebih Happy?

Investor global biasanya mencari aset yang dianggap paling aman, dan dolar AS sering menjadi tujuan utama. Akibatnya hampir semua mata uang mengalami tekanan, termasuk rupiah,” katanya.