Dulu, melepas penat identik dengan musik keras, lampu kelap-kelip, dan alkohol. Kini, sebagian Gen Z justru mencari keringat dan langkah kaki.

Anton (25) memilih berlari, berenang, atau pergi ke gym saat pekerjaan terasa berat. "Aku prefer olahraga daripada party, karena lebih banyak positifnya," ujarnya.

in1

>>> Identitas Penganiaya Caddy Golf Tangerang Terungkap, Bukan Pejabat

Baginya, olahraga adalah investasi tubuh untuk hari tua. Selain menyehatkan, aktivitas ini juga tidak selalu mahal.

Kharina (24) juga merasakan hal serupa. Ia lebih sering jogging, jalan kaki jauh, atau body workout di rumah.

"Party tuh rasanya lebih nguras energi. Kalau olahraga, kita mikirin diri sendiri aja, dengar apa yang badan butuhin," katanya.

Pertimbangan biaya juga berpengaruh. Dalam ekonomi yang serba diperhitungkan, party sering menguras dompet.

Kharina melihat perubahan di sekelilingnya. Unggahan soal klub malam kini jarang muncul, digantikan konten olahraga.

Tren Penurunan Konsumsi Alkohol dan Narkoba

Laporan ESPAD mencatat penurunan penggunaan alkohol, rokok, dan ganja pada remaja 15-16 tahun di Eropa. Studi lain menyebut istilah 'generation sensible'.

Di Indonesia, data BNN, BRIN, dan BPS menunjukkan prevalensi penyalahgunaan narkotika turun dari 1,95 persen (2021) menjadi 1,73 persen (2023), meski naik lagi menjadi 2,11 persen pada 2025.

Meski belum bisa disimpulkan semua Gen Z meninggalkan alkohol atau pesta, tanda-tanda selektivitas mulai terlihat.

>>> Benarkah Fitri Mantan Asisten Pribadi Sarwendah? Pengakuan di Podcast Picu Spekulasi, Belum Ada Bukti Resmi

Pergeseran Standar Keren

Media sosial turut memicu perubahan apa yang dianggap 'keren'. Pengamat budaya populer Hikmat Darmawan mengatakan algoritma menyesuaikan latar sosial dan ekonomi pengguna.