Perdebatan mengenai sejarah Tan Malaka menjadi perhatian pengguna Threads setelah kreator konten Ferry Irwandi dan penulis sekaligus jurnalis Zen Rachmat Sugito atau Zen RS saling bertukar argumen. Diskusi yang berlangsung terbuka itu berakhir dengan klarifikasi serta permintaan maaf dari Ferry setelah mengakui adanya kekeliruan pada salah satu pernyataannya.

Polemik bermula dari unggahan Zen RS yang mengajak pengguna media sosial untuk tidak terburu-buru tersinggung ketika menerima pendapat orang lain. Menurutnya, seseorang sebaiknya menenangkan diri terlebih dahulu sebelum menilai siapa lawan diskusinya.

in1

"Kalo ada orang yg tenang, kasih pendapat…. jangan kesenggol dulu ego-nya, kalo muslim, wudhu dulu biar tenang, baru pelan-pelan cek siapa tuh orang…. Jangan semua orang dianggep Witan Sulaeman, bisa jadi dia Messi."

>>> Khutbah Jumat 3 Juli 2026: Keutamaan Bulan Muharram dan Amalan yang Dianjurkan

Ferry Soroti Pentingnya Isi Argumen

Unggahan tersebut kemudian ditanggapi Ferry Irwandi. Ia menilai kualitas sebuah pendapat tidak ditentukan oleh siapa yang mengucapkannya, melainkan oleh kekuatan argumen yang disampaikan.

"Maaf mas, pun itu Witan Sulaiman kalau dia benar dan saya sadar saya salah saya akan koreksi. Sebaliknya, kalau pun itu Messi tapi tidak ada yang salah dari argumen saya, saya tetap mempertahankan argumen itu sampai terbukti sebaliknya. Saya kira yang penting substansinya."

Ferry juga menegaskan bahwa diskusi akan lebih bermanfaat apabila kesalahan dibantah dengan data, bukan dengan mengalihkan pembahasan ke hal lain.

"Sebenarnya kalau salah tinggal dibantah aja, Mas. Yang baca juga dapat manfaat. Gak perlu akrobat juga."

Perdebatan Bergeser ke Riwayat Tan Malaka

Percakapan berkembang ketika Ferry membahas perjalanan hidup Tan Malaka. Dalam utasnya, ia menyebut Tan pernah menerima gaji dari pemerintah Belanda saat bekerja sebagai guru sekaligus pengawas sekolah di Senembah Maatschappij, Deli, Sumatra Utara.