Logikanya, pasien alkohol sering menolak intervensi hingga mengalami delirium tremens yang fatal. LSD bisa mensimulasikan pengalaman itu sebelum kerusakan fisik terjadi.

Psikolog Duncan Blewett berargumen LSD membantu manusia melihat dirinya dalam perspektif baru. Namun, skeptisisme tetap kuat karena klaim pemulihan sulit direplikasi.

Pelarangan oleh WHO

in1

LSD akhirnya jatuh karena tekanan sosial dan politik, bukan kegagalan ilmiah. Pada pertengahan 1960-an, zat ini dikenal sebagai "acid" dan dikaitkan dengan generasi pemberontak.

Kemudahan sintesisnya membuat versi buatan rumah beredar di pasar gelap. LSD memiliki nama jalanan seperti Acid, Blotter Acid, Dots, Mellow Yellow, dan Window Pane.

Beberapa laporan media fokus pada tindakan tidak berbahaya kaum muda pemberontak, tetapi berita lain menghubungkan LSD dengan kekerasan, pembunuhan, dan bunuh diri.

Pada 1968, WHO mendesak semua pemerintah melarang LSD. Sebagian besar negara mematuhinya, mengakhiri eksperimen legal dengan zat tersebut.

Efek LSD pada tubuh meliputi pupil melebar, suhu tubuh meningkat, detak jantung dan tekanan darah naik, berkeringat, kehilangan nafsu makan, sulit tidur, mulut kering, dan gemetar.

Pengguna juga bisa mengalami gangguan persepsi kedalaman dan waktu, distorsi bentuk dan ukuran benda, serta kecemasan dan depresi akut setelah "trip".

>>> Bahlil Curiga Stok Batu Bara PLN Habis di Tengah Tahun, Ungkap Ada Kejanggalan

Gangguan Persepsi Persisten akibat Halusinogen (HPPD) dapat menyebabkan "flashback" beberapa hari hingga berbulan-bulan setelah dosis terakhir.