Netlist Inc. kembali menggugat Samsung Electronics atas dugaan pelanggaran paten terkait teknologi memori berkinerja tinggi yang digunakan untuk server kecerdasan buatan (AI).

Gugatan diajukan di dua forum sekaligus: Komisi Perdagangan Internasional AS (ITC) dan Pengadilan Distrik AS untuk Distrik Timur Texas.

in1

>>> Huawei Luncurkan Smartwatch Enterprise Qingyun H3550 dengan Layar AMOLED 2.500 Nit

Netlist menuduh produk memori bandwidth tinggi (HBM) dan DDR5 Samsung melanggar dua paten miliknya.

Paten pertama (No. 12.646.537) mencakup inovasi dalam menumpuk chip memori menggunakan through-silicon vias (TSV), teknologi yang memungkinkan kemasan memori padat dengan konsumsi daya lebih rendah.

Paten kedua (No. 12.650.937) berkaitan dengan teknologi register clock driver (RCD) yang penting untuk modul memori DDR5 seperti RDIMM dan MRDIMM agar berjalan stabil pada kecepatan tinggi.

Komponen-komponen ini sangat dibutuhkan oleh akselerator AI dan server kelas atas saat ini.

Dalam kasus di ITC, Netlist juga menyebut sejumlah perusahaan besar yang menggunakan memori Samsung, termasuk Google, Nvidia, Supermicro, dan Broadcom.

Produk yang disebut antara lain TPU milik Google, GPU Blackwell dan Rubin milik Nvidia, serta berbagai server Supermicro.

Netlist mendesak agar produk-produk tersebut dilarang impor dan dihentikan peredarannya di AS.

Jika menang, langkah ini dapat mengganggu rantai pasok perangkat keras AI secara signifikan.

>>> Unggahan Ronaldo Usai Portugal Menang Diserbu Follower, Tembus 2 Juta Like dalam 8 Menit

Sengketa paten antara kedua perusahaan bukanlah hal baru.

Netlist, perusahaan kecil asal California yang fokus pada modul memori dan penyimpanan, sebelumnya memiliki perjanjian lisensi dengan Samsung pada 2015.

Hubungan itu memburuk sekitar tahun 2020 dan berujung pada pertarungan hukum yang berkepanjangan.