Indeks MSCI Asia Pasifik di luar Jepang terapresiasi 0,8 persen. Saham unggulan China terkerek naik 1,6 persen.

Kendati demikian, sikap waspada masih membayangi pasar saham AS dan Eropa.

in1

>>> Tujuh BUMN Logistik Segera Bergabung di Bawah Pos Indonesia Mulai Juli 2026

Kontrak berjangka S&P 500 turun 0,3 persen, Nasdaq melemah 0,2 persen, futures EURO STOXX 50 merosot 0,2 persen, DAX Jerman terkoreksi 0,1 persen, dan FTSE Inggris bergerak mendatar.

Di sektor lain, pasar obligasi masih tertekan menyusul sikap agresif Federal Reserve (The Fed) pada rapat kebijakan pekan lalu.

Investor kini memproyeksikan peluang 75 persen bagi The Fed untuk mengerek suku bunga pada September.

Kontrak berjangka suku bunga memperlihatkan ekspektasi pengetatan sebesar 38 basis poin hingga akhir tahun.

Imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor dua tahun sempat mendaki ke level tertinggi sejak awal 2025, yakni 4,23 persen.

Kepala Strategi Multi-Aset JPMorgan, Fabio Bassi, menyatakan risiko kenaikan suku bunga lebih cepat tetap terbuka jika inflasi kembali menunjukkan tekanan.

Ia menilai kondisi pasar tenaga kerja yang kokoh berpotensi memicu suku bunga bertahan tinggi lebih lama.

Fokus pasar pekan ini tertuju pada rilis data inflasi inti AS yang diproyeksikan naik menjadi 3,4 persen pada Mei.

Angka tersebut berpeluang memperkuat basis kebijakan moneter ketat bank sentral AS.

Prospek suku bunga tinggi turut menyokong penguatan dolar AS yang bertahan di level 161,66 yen Jepang, mendekati rekor tertinggi dalam dua tahun.

Euro melemah ke posisi US$ 1,1454 setelah sempat menyentuh level terendah tiga bulan pada akhir pekan lalu.

Pound sterling juga tergelincir 0,2 persen ke level US$ 1,3208 di tengah gejolak politik Inggris.

Perdana Menteri Keir Starmer dikabarkan mengevaluasi posisinya akibat tekanan internal Partai Buruh.

Sebaliknya, harga emas menguat 0,4 persen ke angka US$ 4.178 per ons troi.

>>> Mbappe Buka Peluang ke MLS, Beckham Sudah Lobi

Pergerakan positif logam mulia ini ditopang oleh kombinasi isu geopolitik global dan ketidakpastian arah kebijakan moneter dunia.