Genre slice of life yang berpadu dengan realisme magis semakin diminati pembaca fiksi di Indonesia.

Gaya penceritaan yang menggabungkan keajaiban supranatural dengan kehangatan emosi sehari-hari mampu menyentuh tema sensitif seperti kehilangan dan duka.

in1

>>> Dubes RI Dukung Indonesian-American Games Perkuat Persatuan Diaspora

Kai Elian kembali dengan novel keempatnya berjudul Halte Alam Baka.

Diterbitkan oleh Gramedia Pustaka Utama, novel ini menawarkan perjalanan kontemplatif yang mengajak pembaca merayakan kenangan orang yang telah tiada.

Sebelumnya, Kai Elian menulis karya populer seperti Vermilion Rain dan Teori Tawa dan Cara-Cara Melucu Lainnya.

Melalui Halte Alam Baka, ia menyajikan metafora indah tentang perpisahan dan memberikan pelukan hangat bagi yang berduka.

Sinopsis Novel Halte Alam Baka

Cerita berpusat pada Julian, seorang jurnalis junior di portal berita Suara Kita. Ia bertanggung jawab atas rubrik "Kisah Pembaca" yang menyeleksi cerita personal dari masyarakat.

Rutinitas Julian berubah saat menerima surat elektronik misterius tentang halte bus merah dengan sosok nenek perajut. Ketertarikan profesionalnya berubah menjadi penyelidikan jurnalistik yang mendalam.

Kisah investigasi Julian tentang halte merah itu viral dan dijuluki Halte Alam Baka.

Namun, kekuatan terbesar dari penyelidikan ini adalah pertemuannya dengan orang-orang dari masa lalu dan masa depannya sendiri.

Alur cerita tidak bergerak lurus, menggunakan teknik maju-mundur antara tahun 199X dan 202X. Perpindahan dimensi waktu ini memperlihatkan benang merah sejarah keluarga dan hubungan antar-karakter.

Pembaca diajak mengikuti investigasi Julian di masa kini dan kisah perjuangan Dira dan Inke di era 199X yang membangun toko roti dari nol.

Hubungan masa lalu tersembunyi ini mengikat takdir Julian, Dira, Inke, dan Ava dalam lingkaran kasih sayang melampaui kematian.