Pontjo mengambil alih pengelolaan dan melakukan pembenahan manajemen. Sejak saat itu, namanya semakin dikenal dalam industri perhotelan nasional.

Pada 1986, ia dipercaya memimpin Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI). Tiga tahun berselang, ia terpilih sebagai ketua umum organisasi tersebut dan menjabat hingga 2001.

in1

Aktivitas organisasinya tidak hanya di sektor perhotelan. Pada 1972, Pontjo bersama Abdul Latief dan sejumlah pengusaha muda turut mendirikan Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (Hipmi).

Di organisasi itu, ia sempat memimpin bidang Banking and Finance sebelum akhirnya dipercaya menjadi Ketua Umum Hipmi periode 1979–1983.

Perjalanan panjang sebagai pengusaha membuat Pontjo dikenal sebagai salah satu figur penting dalam dunia usaha nasional. Namanya kembali menjadi perhatian publik seiring berakhirnya sengketa lahan Hotel Sultan yang selama ini menjadi bagian dari bisnis keluarga Sutowo.