Menteri Pertanian RI Andi Amran Sulaiman memperkenalkan sistem pertanian modern Advanced Agricultural System (AAS) pada pembukaan Pekan Nasional (Penas) XVII Petani dan Nelayan di Gorontalo, Sabtu.

Sistem ini merupakan model budidaya berbasis teknologi yang bertujuan meningkatkan produktivitas dan mempercepat swasembada pangan nasional.

in1

>>> 3 Rekomendasi Lampu Emergency Terbaik yang Tahan Lama Saat Mati Lampu

Amran mengatakan sistem tersebut merupakan hasil penggabungan berbagai metode yang dikembangkan dari pengalaman Indonesia dan sejumlah negara lain.

"Ini adalah penemuan baru, ini adalah metode baru yang kami combine antara metode baru dari Indonesia dan kami temukan dari China kemudian di Amerika, ini kami coba memadukan," kata Amran.

Menurut dia, penerapan teknologi pertanian menjadi kunci dalam meningkatkan hasil produksi melalui penggunaan benih unggul, pengelolaan irigasi yang lebih baik, mekanisasi pertanian, serta pola tanam yang lebih modern dan efisien.

Pemerintah saat ini menjalankan strategi intensifikasi dan ekstensifikasi secara bersamaan guna mempercepat peningkatan produksi pangan nasional secara berkelanjutan.

Melalui penerapan sistem tersebut, produktivitas padi dapat mencapai lebih dari 10 ton per hektare, atau hampir dua kali lipat dibanding rata-rata produktivitas nasional yang berada pada kisaran 5,5 ton per hektare.

Pada kesempatan itu, Amran juga menyampaikan stok beras nasional saat ini menjadi yang tertinggi sepanjang sejarah.

Kondisi tersebut membuat Perum Bulog harus menambah kapasitas penyimpanan melalui penyewaan gudang baru.

>>> Anthropic Buka Kantor di Seoul di Tengah Ketatnya Kontrol Ekspor AI AS

Menurut dia, peningkatan produksi pangan turut berdampak pada kesejahteraan petani.

Harga gabah yang sebelumnya berada di kisaran Rp5.000 per kilogram kini mencapai minimal Rp6.500 per kilogram, sementara Nilai Tukar Petani (NTP) mencatatkan angka tertinggi dalam 34 tahun terakhir.