Meski demikian, Ibrahim meragukan efektivitas kenaikan suku bunga dalam menopang rupiah. Ia mencatat rupiah sempat melemah sesaat setelah pengumuman sebelum akhirnya bergerak stabil kembali.

"Artinya, pasar menolak Bank Indonesia menaikkan suku bunga, walaupun Gubernur BI sudah mengatakan tujuannya untuk stabilitas mata uang rupiah," imbuhnya.

in1

Ibrahim mengingatkan bahwa kenaikan suku bunga berpotensi mendorong kenaikan yield obligasi pemerintah.

Saat ini yield Surat Berharga Negara (SBN) tenor 10 tahun berada di level 6,968% pada Kamis (18/6), jauh lebih tinggi dibandingkan awal tahun yang masih di kisaran 6,0%.

Pekan lalu pada (11/6), yield SBN 10 tahun sempat tembus level 7,4%.

"Menurut saya bukan stabilitas mata uang rupiah, karena menaikkan suku bunga ini akan berdampak terhadap obligasi tenor 10 tahun, bukan lagi 7,4% bisa saja di 8%," katanya.

Kenaikan yield tersebut perlu dicermati karena dapat berdampak pada beban pembayaran utang pemerintah di masa mendatang.

Semakin tinggi yield obligasi, semakin besar biaya yang harus ditanggung pemerintah saat menerbitkan surat utang baru.

>>> KEI Learning Gelar Workshop Google Spreadsheet AI Juni 2026

Ibrahim memperkirakan tekanan terhadap rupiah masih berpotensi berlanjut. Potensi rupiah kembali ke level Rp 18.000 per dolar AS terbuka dalam jangka pendek.