Fenomena tersebut membuat para investor kembali memindahkan modal mereka ke dalam aset-aset yang memiliki risiko lebih tinggi.

Meredanya ancaman inflasi global turut menjadi pendorong utama melemahnya indeks dolar AS. Hal ini terjadi karena kekhawatiran terhadap macetnya jalur distribusi energi di Timur Tengah kini mulai berkurang.

in1

"Washington dan Teheran mengumumkan kesepakatan awal untuk mengakhiri konflik mereka dan membuka kembali Selat Hormuz.

Kerangka kerja perdamaian tersebut memicu penurunan tajam harga minyak dan meningkatkan sentimen risiko di pasar global," ujar Ibrahim.

>>> CEO Danantara Bantah Arahan Presiden soal Penahanan Suku Bunga Himbara

Fokus Investor pada Kebijakan Bank Sentral

Saat ini, pelaku pasar finansial tengah mencermati langkah-langkah strategis dari beberapa bank sentral besar. Perhatian utama tertuju pada kebijakan moneter Federal Reserve dan Bank of England.

Para pemodal juga sedang menantikan kepastian arah suku bunga acuan di AS. Informasi tersebut dinantikan melalui pidato resmi yang akan disampaikan oleh Ketua The Fed, Kevin Warsh.

Kendati indeks dolar AS sedang melorot, sikap waspada tetap mendominasi pasar keuangan.

Ekspektasi pelaku pasar terhadap pemangkasan suku bunga AS tahun ini terpantau menyusut akibat tekanan inflasi yang belum reda.

Ibrahim memprediksi bahwa pergerakan rupiah pada hari ini akan bergerak secara fluktuatif namun tetap memiliki peluang besar untuk berakhir di zona penguatan.

"Untuk perdagangan besok, mata uang rupiah fluktuatif namun ditutup menguat di rentang Rp17.690 hingga Rp17.728 per dolar AS," jelasnya.

Data Pergerakan Kurs Sepanjang Hari

Berdasarkan data pasar, rupiah sempat mencatatkan penurunan sedalam 37 poin atau setara 0,21 persen. Penurunan tersebut membawa mata uang domestik ke level Rp17.762 per dolar AS.