"Penjor secara tradisional melambangkan Gunung sebagai sumber kesucian dan kemakmuran," ujarnya.

>>> MUI Apresiasi Kesepakatan Damai AS dan Iran, Dorong Stabilitas Kawasan

Berbagai hasil bumi yang digantungkan pada penjor menjadi media persembahan langsung umat terhadap Sang Pencipta.

"Penjor Galungan bersifat khusus karena terdiri dari tebu, kelapa, beras atau padi, kue Bali, dan buah-buahan sebagai ungkapan rasa syukur atas waranugraha berupa kemakmuran yang dianugerahkan oleh Ida Sang Hyang Widi Wasa," katanya.

Mengenai latar belakang sejarahnya, perayaan ini merujuk pada legenda penaklukan penguasa zalim oleh kekuatan surgawi.

"Mayadenawa kemudian dikalahkan oleh Dewa Indra.

Masyarakat Hindu Bali memaknai kekalahan Mayadenawa dan kemenangan Dewa Indra sebagai peristiwa kemenangan Dharma (kebenaran) melawan Adharma (ketidakbenaran)," ujarnya.

Suasana Hari Raya Kuningan yang relatif lebih sepi dibanding Galungan sering kali dinilai menurunkan kadar kesuciannya, namun hal ini dibantah oleh PHDI.

"Bila dilihat dari esensinya, bisa dipahami bila Hari Raya Kuningan dirayakan secara lebih sederhana karena euforia utama tentu saat perayaan kemenangan," ujarnya.

Kendati demikian, signifikansi spiritual antara pembukaan dan penutupan festival ini dinilai tetap setara.

"Namun demikian, secara esensi keduanya sama pentingnya dan merupakan satu rangkaian perayaan," kata Budiasa.

Ritual penutup ini justru memuat pesan mawas diri yang lebih mendalam bagi setiap individu setelah merayakan kemenangan.

>>> MR DIY Indonesia Bagikan Dividen Perdana Rp17,62 Per Saham

"Kuningan juga dimaknai sebagai pengingat bahwa perang Dharma melawan Adharma sesungguhnya adalah perang yang bersifat abadi dalam diri manusia," ujarnya.