Proses pembuatan pakaian tersebut memerlukan pengukuran yang detail pada setiap personel tim.

"Itu proses yang sangat panjang. Kami mengukur setiap pemain," katanya.

Proyek pakaian ini juga membawa misi sosial untuk membuka lapangan pekerjaan di tengah situasi Kongo yang sedang menghadapi konflik dan wabah penyakit.

"Kehidupan di sana sangat sulit. Banyak orang menderita," ujarnya.

Melalui popularitas pakaian rancangannya, Mak ingin memperkenalkan potensi serta kemampuan yang dimiliki oleh masyarakat Kongo kepada komunitas internasional.

"Saya ingin menunjukkan kepada dunia apa yang bisa dilakukan oleh orang Kongo," kata Mak.

Pakaian bermotif macan tutul tersebut menarik perhatian netizen global dari berbagai negara yang tertarik untuk membeli koleksi tersebut.

>>> Kementerian ESDM Evaluasi Target Produksi Batu Bara 2026 untuk Tutup Defisit PLN

Akibat tingginya permintaan, sang desainer berencana membuka sistem pemesanan khusus di situs resminya. "Saat ini sudah mendunia," kata Mak.