Tim nasional Kongo kembali berlaga di Piala Dunia 2026 setelah absen selama lima dekade. Kedatangan mereka langsung mencuri perhatian publik berkat penampilan busana yang mencolok dan berani.

Saat tiba di Houston, Amerika Serikat, para pemain mengenakan setelan jas unik dengan luaran rompi setengah jadi bermotif leopard.

>>> Milagrow iMap G5 ECO: Robot Vacuum dengan Navigasi LiDAR dan Self-Emptying

Paduan tas senada semakin memperkuat kesan eksentrik yang viral di media sosial.

Di balik busana tersebut, terdapat Alvin Mak, desainer muda berusia 30 tahun asal Kongo. Ia merancang pakaian yang kini ramai diperbincangkan di berbagai platform.

Filosofi Motif Leopard dan Budaya La Sape

"Dalam budaya Kongo, semangat macan tutul melambangkan kekuatan," ujar Mak kepada New York Times.

Motif leopard telah lama menjadi identitas rakyat Kongo, sehingga tim nasional mereka dijuluki 'Les Léopards'.

Inspirasi rancangan Mak berakar dari budaya La Sape, singkatan dari La Société des Ambianceurs et des Personnes Élégantes.

Tradisi ini merupakan gaya hidup pria Kongo yang mengekspresikan diri melalui pakaian elegan, penuh warna, dan berkarakter.

"Di Kongo, ada tiga hal penting: musik, fashion, dan olahraga," jelas Mak. Ia menambahkan bahwa seorang sapeur harus bersolek elegan dengan gaya yang berani serta ekspresif.

Perjalanan Karier Alvin Mak

Mak lahir di Kongo dan pindah ke Paris pada usia 11 tahun.

Ia sempat bekerja di sektor ritel sebelum mulai merancang busana di usia 20-an tanpa pendidikan formal di bidang fashion.

Ia belajar secara mandiri melalui video dokumenter karya Loic Prigent di YouTube. "Saya sering mencari tahu seperti apa kehidupan seorang desainer fashion," ujarnya.